“Curhat: Kok ‘Kita’ Begini Banget Ya?”

Maafkan bila selama ini tak sempat mengupdate tulisan di blog ini. Ada banyak ide dan gagasan yang berseliweran sebetulnya, tapi tak sanggup ditumpahkan dengan ragam alasan, entah karena kesibukan atau datangnya kemalasan. Tapi hari ini, saya menekadkan diri untuk menulis kembali hanya karena kekacauan sosial yang selama ini, menurutku, sudah tidak normal lagi.

Betapa saya harus anggap sebagai suatu hal yang normal ketika ada sekelompok orang diserang dan dibakar rumah dan aset mereka hanya karena mereka mempertahankan hidup di suatu komunitas yang agak eksklusif dan disangka sesat oleh khalayak ramai? Betapa saya harus katakan situasi saat ini normal saja ketika ada kepala daerah, yang hidup, makan, dan digaji oleh rakyatnya, tega mengusir rakyatnya sendiri keluar dari daerahnya? Betapa harus saya katakan kehidupan kita saat ini baik-baik saja ketika ada sekelompok orang yang mengaku paling benar, paling suci, dan paling tahu tentang agama dan melakukan kekerasan atau pemaksaan terhadap orang lain yang berbeda? Betapa tidak shock ketika dulu orang bertahun baru biasa-biasa saja, sementara sekarang harus diributkan dengan broadcast media sosial yang mengharamkan tahun yang merayakan hari besar agama Kristen/Katolik? Dan betapa-betapa lain yang kadang terbersit dalam hati dan memunculkan pertanyaan di benak, “Kok kita begini banget ya”?

Salah satu perbedaan mendasar hidup saya dulu (meskipun belum lama-lama banget) dengan masa sekarang mungkin dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Dulu, ayah saya yang hendak mengirimkan kabar ke anak-anaknya yang ada di pesantren harus melalui surat pos atau telegram, sementara sekarang dengan menekan tombol 12 digit komunikasi tanya-jawab sudah bisa langsung terhubung. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menerima, menjawab, dan mendapatkan balasan dari lawan bicara. Yah, harus diakui bahwa sekarang komunikasi dan transfer informasi lebih mudah dan cepat, bahkan setiap saat, setiap orang, dapat saja bercurhat ria di wall media sosialnya tanpa harus menunggu teman bicara yang hadir secara fisik. Mulai dari urusan properti pribadi, keluarga, olahraga, kesehatan, hingga batu akik, semuanya bisa diceritakan kepada siapapun hanya dengan menekan tombol “Enter”. Bahkan, kita bisa mendapatkan broadcast message tentang pelbagai hal di group-group sosialitas keluarga, perumahan, pengajian, RT/RW, alumni sekolah, pekerjaan, klub olahraga, organisasi, hingga jual beli.

Demikian halnya untuk mendapatkan informasi, tidak perlu menunggu lama menunggu loker koran menghampiri, namun cukup duduk santai sambil meminum menikmati segelas kopi semua informasi tentang segala hal telah dapat diakses. Semuanya menjadi sangat dekat, cepat, dan kadang tak terlalu padat. Yah, mesin google yang merambah ke seluruh penjuru dunia dan maraknya portal berita online, ditambah lagi dengan sejumlah saluran televisi khusus berita, telah menjejali kita dengan ragam informasi yang kadang tak semuanya penting atau benar. Bahkan, untuk belajar suatu hal kita tidak perlu lagi mendatangi guru secara langsung, karena semua bisa didapatkan dengan berselancar di dunia internet atau menonton melalui saluran video terbesar yang kita sama-sama ketahui.

Di luar itu semua, situasi yang saat ini kita sama-sama alami adalah bahwa kita dibanjiri informasi yang terkadang sulit untuk dibendung dan difilter sesuai dengan kebutuhan kita, bahkan difilter dengan kesadaran kita sebagai manusia yang mempunyai nalar. Kalau boleh saya tegaskan lagi, “manusia yang mempunyai nalar”. Hal ini seringkali terjadi, bahkan sangat sering, apalagi sudah terkait dengan agama atau keyakinan kita. Dengan mendapatkan informasi dari media sosial, kita telan mentah-mentah informasi itu, terbawa oleh arus pikiran yang hendak ditransfer, dan tentunya menggerakkan jari kita untuk mem-forward pesan itu ke orang atau group social media lain yang ada di ponsel kita. Kalau tidak, seakan keimanan atau sensitifitas kita berkurang.

Padahal, kita sendiri tak pernah tahu siapa yang membuat pesan itu, tujuannya apa, apa benar sesuai dengan ajaran agama yang kita anut, dan yang terpenting berita itu valid atau tidak. Kita berlomba-lomba hendak menjadi penjaga kesucian agama, meski kadang kita sendiri tak punya banyak ilmu untuk menggali lebih lanjut info tersebut. Dulu, ketika ada guru dan pengajian rutin dilakukan, info yang beredar di masyarakat dapat saja dikonfirmasi ke guru dan arahan guru menjadi pegangan dan sikap diri. Sementara saat ini, meskipun ada segelintir orang saja yang bersedia bertanya, kebanyakan kita sepertinya lebih banyak terbawa emosi. Lagi-lagi, hal itu kemudian menghilangkan nalar kita. Setidaknya, dunia yang semakin instant ini semakin memanjakan kita untuk menerima informasi apa adanya dan mengambil tindakan-tindakan solusi yang juga instant.

Dunia Instant, Nalar dan Kekerasan

Kehilangan nalar ini pula yang membuat kita melupakan aspek terpenting dari dunia informasi ini, yaitu cek dan ricek. Dalam bahasa agama Islam, hal ini disebut dengan tabayyun. Tabayyun dilakukan ketika ada informasi yang meragukan karena dibawa oleh seorang yang fasik, demikian Alquran berfirman kira-kira. Nah, ketika informasi itu dikirimkan melalui media sosial, apalagi dengan tanpa nama pembuat pesan atau dikirimkan dengan link saluran portal atau website yang tidak kredibel, seharusnya hal itu juga dianggap sebagai informasi yang datang dari orang yang fasik. Maka itu, perlu dilakukan klarifikasi informasi atau tabayyun itu. Dengan tabayyun, setidaknya, kita tidak salah mengambil langkah dan menyesal di kemudian hari dengan sikap yang kita ambil tersebut.

Ada suatu contoh yang sangat menarik dalam kasus ini, yaitu ketika ada isu untuk membenci atau menyerang suatu kelompok agama/aliran/keyakinan tertentu. Biasanya, akan ada banyak informasi yang berseliweran dan memengaruhi informasi publik, yang kadang tidak semuanya benar. Modusnya hampir selalu sama, semua keburukan dan kejelekan yang dapat memunculkan emosi publik disematkan pada kelompok tersebut hingga akhirnya publik membenci dan marah. Ketika publik marah, massa seakan menjadi tumpukan daun kering yang tinggal dipantik dengan korek dan terbakar. Ibarat hutan Indonesia yang terbakar hampir setiap tahunnya, jiwa-jiwa itu menjadi kering, panas dan kekurangan siraman air, sehingga mudah untuk diprovokasi, disulut emosinya, dan akhirnya menyerang manusia yang lain.

Informasi yang masuk bertubi-tubi berhasil membuat jiwa-jiwa kita panas dan emosi, tanpa mempertimbangkan lagi apakah sesuai dengan kemanusiaan kita dan apakah agama kita sendiri sebetulnya membiarkan perlakukan kejam terhadap sesama. Sibuknya menekan tombol ponsel kadang melupakan kita untuk membaca kembali buku-buku agama, buku-buku akidah atau fikih, buku-buku tasawuf yang selalu menyejukkan, bahkan mencari informasi yang benar tentang suatu hal. Kita mengandalkan informasi singkat yang hanya terbatas pada sekian karakter atau sibuk mencari justifikasi pembenaran atas tindakan kekerasan. Suatu kali mungkin terbersit di antara, “Oh, wajar demikian, karena sesat”.

Entahlah apa yang ada di benak pembaca semua. Dalam hati saya, kok rasanya beringas sekali kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal ramah dan santun ketika membiarkan sekelompok orang yang hidup aman, memiliki rumah dan propertinya sendiri, keluarga yang damai dan menyejukkan, tiba-tiba harus diserang, dibakar, dan dijarah barang-barang dan sumber ekonominya. Saya sangka kita sudah cukup sensitif dengan kemanusiaan kita, karena kita berbondong-bondong mengecam persekusi terhadap Rohingya di Myanmar, mengutuk keras pelanggaran HAM di Palestina, dan mengecam tindakan-tindakan brutal di Tolikara. Ternyata, kita masih pilih kasih, kita masih mengamini bila serangan itu bukan terhadap diri atau kelompok kita. Kita masih pandang bulu ternyata, karena hati kita seakan mengiyakan bila yang dibakar dan diserang itu adalah kelompok yang selama ini kita anggap sesat. Dan, kita sendiri lupa bahwa suatu saat serangan itu bisa saja menyasar kita, keluarga atau orang terdekat kita sendiri, karena kekuasaan dan kekuatan politik dapat dengan mudah memutarbalikkan fakta dan menyerang mereka yang dianggap “menyimpang”.

 

Disclaimer: Maaf bila pembaca tak merasa seperti yang ditulis di atas, karena ini hanya luapan dari sejumlah pertukaran pikiran dan diskusi yang saya lakoni beberapa bulan, bahkan tahun, terakhir.

[*Tulisan selanjutnya tentang “Siapa yang Sesat dan Menyimpang?”]

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s