Belajar Toleransi dari sang Ambassador

Kisah menarik hari ini datang dari Duta Besar Norwegia yang memberikan kuliah umum di Center for Dialogue and Cooperatin among Civilizations, di Kemiri 24, Menteng, Jakarta. Treg Travik, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia bercerita tentang kehidupan pribadinya. Ia seorang muallaf, masuk Islam tatkala ia bertugas di Afghanistan. Ia lebih condong ke Sunni, terutama tentang tradisionalisme Islam dan Sufisme. Isterinya adalah pengikut Syiah. Namun hal itu tak masalah baginya, karena setiap orang berhak untuk memilih keyakinan. Bahkan, anaknya diberikan kebebasan untuk memilih agama kakeknya (Kristen) atau ayahnya yang baru memeluk Islam.

Bagi Travik, bersikap toleran itu mudah. Yaitu, hanya dengan menghargai apa yang dipilih oleh orang lain tentang sikap, keyakinan dan pandangan hidup. Bahkan, Travik menemui Islam sebagai – agama barunya ini – sebagai sumber utama toleransi. Ia sangat kagum dengan Islam yang sangat membebaskan pengikutnya untuk memilih dan bersikap bebas terhadap keyakinan orang lain. Untuk itu pula, Travik berusaha mendalami lagi agama Islam, terutama sufisme, yang dipandangnya sangat kaya akan nilai-nilqi luhur toleransi dan kemanusiaan.

Semoga kita selalu menjadi orang yang selalu belajar dan menggali terus menerus nilai-nilai agama kita agar masa depan kwhidupan umat manusia semakin baik dan bahagia. Bukankah agama adalah untuk membahagiakan setiap insan?

Bekasi,  16 April 2013

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s