Ihsan Ali Fauzi: Muharram, Islamofobia, dan Toleransi

Oleh Ihsan Ali-Fauzi

Dua hari dalam pekan ini merupakan hari-hari penting dalam kalender Muslim dan umat manusia. Kita perlu memanfaatkan momen baik ini untuk merenungkan di mana situasi kita sekarang terkait dengan dua hal yang disimbolkan dua hari penting itu. Lalu kita perlu merancang, sekecil dan sesederhana apa pun, akan ke mana kita melangkah.

Yang pertama dari dua hari itu, yang jatuh bersamaan dengan Kamis ini, 15 November 2012, adalah hari pertama bulan Muharram. Ini hari istimewa karena Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam. Muharram juga dianggap satu di antara bulan-bulan paling penting di dalam tahun Islam.

Muharram berasal dari akar kata “h-r-m” yang artinya “dilarang” dan “berdosa”. Menurut sebagian riwayat, disebut demikian karena kaum Muslim dilarang berperang di bulan ini.

Kaum Muslim Syiah khususnya merayakan hari Asyura di bulan ini, yang jatuh pada hari keselupuh. Ini hari sangat penting bagi mereka, karena persis pada hari itulah, beberapa ratus tahun lalu, Imam Husein dan pengikutnya yang tinggal sedikit dibantai oleh penguasa Bani Umayyah yang dianggap zalim. Karena pentingnya Imam Husein dalam ajaran Islam Syiah, hari ini dirayakan dengan merenungkan, bahkan ikut merasakan, penderitaan yang dialami sang imam dan pengikutnya di dalam memperjuangkan keadilan.

Sementara itu, hari penting yang kedua adalah Hari Toleransi Internasional, yang jatuh pada 16 November 2012. Ini hasil ketetapan UNESCO (Badan PBB yang mengurusi masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan) pada 1995, dengan tujuan membangkitkan kesadaran publik mengenai bahaya intoleransi. Dalam deklarasinya, UNESCO antara lain menyatakan: “We, the people of the United Nations determined to save succeeding generations from the scourge of war, … to reaffirm faith in fundamental human rights, in the dignity and worth of the human person, … and for these ends to practice tolerance and live together in peace with one another as good neighbours.”

* * *

Apa yang secara khusus patut kita renungkan di dua hari penting ini? Saya duga, ada yang sifatnya subyektif, tergantung masing-masing orang. Tapi ada juga yang bisa kita bagi bersama.

Sebagai seorang Muslim yang merasa peduli dan bergiat pada isu toleransi dan kebebasan beragama, saya ingin berbagi di sini mengenai penderitaan kaum Muslim di negara-negara di mana mereka merupakan kelompok minoritas. Saya ingin mengingatkan bahwa sikap diskriminatif terhadap kalangan minoritas agama bisa terjadi pada siapa saja, termasuk saudara-saudara kita seiman.

Ada banyak segi yang bisa dibicarakan di sini. Salah satunya yang sedang meningkat belakangan ini adalah Islamofobia di Eropa dan Amerika.

Konsep ini, Islamofobia, pertama kali muncul pada akhir 1990-an dan awal 2000-an untuk menunjukkan terdapatnya retorika dan aksi yang bersikap diskriminatif terhadap Islam dan kaum Muslim di negara-negara demokrasi liberal di Barat. Konsep itu pertama-tama dikembangkan para aktivis hak-hak asasi manusia (HAM), khususnya para pegiat kebebasan sipil, untuk menarik perhatian publik terhadap bahaya di atas.

Sekarang istilah itu sudah umum digunakan di media-media massa populer. Sudah mulai diakui bahwa ada realitas sosial di mana Islam dan kaum Muslim tumbuh sebagai obyek yang harus dijauhi, ditakuti, bahkan dimusuhi. Ada semacam kecurigaan, ketidaksukaan, bahkan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim di sana.

Ada banyak faktor yang disebut turut menumbuhkan Islamofobia. Ada krisis ekonomi global yang menyebabkan orang mencari kambing hitam, dan kaum Muslim – yang jumlahnya terus meningkat di Eropa dan Amerika – jadi salah satu sasaran tembaknya. Kompetisi sengit di antara kalangan liberal dan konservatif di banyak negara Barat, seperti tampak pada pilpres di Amerika Serikat pekan lalu, mendorong satu pihak untuk bersikap ekstrem dengan mengedepankan ideologi Kristen Kanan, yang sangat anti-imigran. Tentu ada faktor-faktor lainnya juga.

Lepas dari itu, yang menyejukkan, Islamofobia juga sudah masuk menjadi salah satu kepedulian utama para pemimpin dan sarjana di banyak tanki pemikir (think tanks) dan universitas besar. Di Eropa, beberapa tahun terakhir Dewan Eropa meminta sejumlah ilmuwan terkemuka untuk meneliti masalah ini dan mengajukan rekomendasi untuk mengatasinya. Salah satu laporannya, Living Together: Combining Diversity and Freedom in 21st Century Europe, terbit tahun lalu.

Di Amerika, baru-baru ini bahkan sebuah jurnal baru khusus diterbitkan untuk membahas masalah Islamofobia ini. Jurnal itu, Islamophobia Studies Journal, diterbitkan oleh The Islamophobia Research & Documentation Project pada Universitas California di Berkeley, salah satu universitas besar di Amerika, tempat para ekonom Indonesia dulu belajar.

Sampul jurnal baru itu menampilkan foto yang diambil dari Istana Al-Alhambradi Granada, peninggalan peradaban Islam di Spanyol dulu, disertai teks bahasa Arab yang diterjemahan ke dalam bahasa Inggris sebagai “No One is Truly Victorious Except God!” Teks itu, tulis editorial edisi perdana jurnal tersebut, “lebih dari sekadar motif estetis atau artefak arkeologis,” tapi juga “sebuah deklarasi filosofis, spiritual dan Islami yang berakar pada gagasan mengenai pengelolaan diri-sendiri dengan penuh rendah hati dan keadilan.” Dengan motto itu, jurnal ini berharap bisa menampilkan hasil-hasil studi mengenai Islamofobia yang tidak melupakan hubungan akrab dan saling berbagi di antara dunia Islam dan Eropa di masa lalu.
Dengan makin mapannya Islamofobia sebagai konsep, orang makin menyadari bahaya intoleransi terhadap kaum Muslim. Dan dengan prakarsa-prakarsa seperti di atas, saya merasa optimis bahwa para pemimpin politik, aktivis HAM dan sarjana terus berusaha mencari jalan keluar agar kaum Muslim akhirnya diterima sebagai warganegara yang tidak mengancam di Eropa dan Amerika.

* * *

Dengan latar belakang itulah saya miris melihat bagaimana kita, mayoritas Muslim di negeri ini, gagal memberi rasa aman kepada kelompok-kelompok minoritas di sini. Kita sudah berkali-kali bertindak intoleran terhadap mereka.

Sepertinya, makin hari makin sering terjadi diskriminasi kepada kelompok-kelompok minoritas di sini. Beberapa tahun belakangan ini, yang menjadi korban Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Lalu, baru-baru ini, kelompok Syiah. Nanti entah kelompok mana lagi.

Apakah kita mau saudara-saudara Muslim kita di Eropa dan Amerika diperlakukan seperti kita memerlakukan kelompok-kelompok minoritas di sini? Apakah kita lupa bahwa urusan hati dan kebenaran hanya Allah Yang Mahatahu?

Di dua hari penting di pekan ini, yang mengaitkan kesucian Muharram dan keagungan toleransi, mari kita renungkan apakah kita sudah cukup rendah hati dan adil dalam sikap dan tindakan kita terutama kepada kalangan minoritas. Apakah itu sudah mencerminkan apa yang tertulis di tembok-tembok Istana Al-Alhambra dulu, “No One is Truly Victorious Except God”? (* * *)

Penulis adalah Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, dan staf pengajar pada Universitas Paramadina, Jakarta.

Sumber: Yayasan Paramadina

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s