Belajar Toleransi dari Padatnya Jalanan

Hampir semua dari kita pernah berada di jalan raya. Entah di kampung, di kota, di Jakarta atau di kota-kota lain tempat kita tinggal. Kadang dengan mengendarai sepeda motor, mobil, berjalan kaki, menumpang di angkutan umum, metromini, becak, bajaj, ataupun busway yang katanya anti macet. Kondisinya pun sangat beragam, jalanan di kota-kota besar sangat berbeda dengan jalanan di kota kecilatau dengan jalan kampung. Suasana macet, berhimpit-himpitan, panas, pengap dan saling sodok/salip sangat mewarnai jalanan perkotaan. Apalagi bila sudah jam pergi dan pulang kerja, jalanan nampak seperti aliran sungai yang dipenuhi dengan sampah kendaraan, dengan polusi yang maha dahsyst. Di luar itu semua, kita semua mafhum, bahwa ada banyak jenis kendaraan dengan ragam rupa dan identitas. Dan tentunya, masing-masing identitas itu merepresentasikan pula ragam kepentingan. Bahkan tak jarang kendaraan sejenispun memiliki kepentingan yang berbeda satu sama lain, seperti saling sodok, saling salip, atau adu moncong untuk merebut sejengkal jalanan yg masih terlihat lengang.

Gambaran inilah yang menggambarkan keberagaman hidup ini. Keragaman jalanan ini pula yang mengajarkan kita bahwa multikulturalisme itu sebuah keniscayaan hidup yang tak bisa dibantah. Atau, memaksakan setiap orang memiliki satu kepentingan yang sama adalah mustahil bagi manusia yang dikenal sebagai hewan yang berbicara (hayawan nathiq).

Adakah hal lain yang juga menarik dari jalanan? Tentu ada banyak hikmah yang bisa dipetik. Salah satunya adalah perasaan kita sebagai pengguna jasa jalanan. Dengan membayar pajak setiap bulan, kita merasa bahwa kitalah yang paling berhak untuk nyaman berkendara. Ternyata kadang kita lupa bahwa orang lainpun membayar pajak, sama seperti yang kita lakukan. Tapi demi kepentingan kita, masa bodoh dengan orang lain, yang penting kepentingan kita tercapai. Tanpa disadari, semua orang seakan merasa bahwa dialah yang psling benar dansuci dari kesalahan. Dari sini pula, jalanan ibarat hutan belantara yang berisi makhluk-makhluk buas yang siap memangsa siapa yang lemah. Jalanan seakan mentashih tesisnya Hobbes bahwa “Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain” (homo homini lupus). Melihat semrawutnya jalanan kita, tak salah pula bila kita menyatakan demikian, karena meminjam istilah teman di timeline Twitternya, “Jangan harap orang lain memikirkan anda di jalanan”.

Apakah hal ini membuat kita pesimis untuk belajar kepada jalanan? Jawabannya tentu tidak. Mari kita mulai merefleksi jalanan sebagai ajang mengstur ritme emosi kita dan lebih memaknai keragaman sebagai kodrat yang tak bisa dibantah. Kita mulai dengan sebuah pertanyaan, kendaraan apa yang paling sering anda gunakan/manfaatkan? Mobil pribadikah, sepeda motorkan, sepeda goweskah, angkutan umumkah, metro minikah, taksikah, buswaykah, bajajkah, becakkah, atau hanya berjalan kaki? Apa yang anda rasakan tatkala sedang berkendara? Tiga pertanyaan ini dulu yang harus direfleksidalam diri kita sebelum kemudian kita mengasah lagi kadar emosi kita sebagai orang-orang yangsama-sama memanfaatkan jasa jalan raya dan sangat tergantung dengannya.

Kemudian, pertanyaan berikutnya, pernahkah anda sesekali beralih ke kendaraan yang lain? Suatu ketika mobil sedang rusak atau baru keluar dari salon dan kondisi jalanan sangat becek setelah hujan, tiba-tiba anda harus menggunakan taksi. Atau anda harus menggunakan sepeda motor untuk pergike suatu tempat yang tidak terlalu jauh. Atau sebaliknya, kebiasaan anda menggunakan kendaraan umum, karena harus cepat sampai ke tujuan anda pun harus menggunakan motor atau mobil pribadi. Atau harus naik ojek demi menghindari habisnya waktu berjam-jam di jalanan. Dan seterusnya, dan seterusnya, intinya adalah pernah anda mengubah aktivitas berkendara dari yang biasa digunakan ke kendaraan lain.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang anda rasakan tatkala anda di kendaraan yang jarang  anda naiki itu? Ketika sering menggunakan sepeda motor dan tiba-tiba anda nebeng dengan mobil teman atau dengan mobil anda sendiri, apa yang anda rasakan tatkala melihat sebuah motor yang tiba-tiba menyalib mobil teman (anda)? Atau yang biasanya menggunakan mobil kemudian suatu hari anda harus mengeluarkan motor yang sudah satu bulan tidak terpakai ke jalanan, tiba-tiba ada sebuah mobil pribadi yang menyerobot di samping anda dan mengambil jengkalan jalan yang seharusnya bisa anda lalui. Apa pula yang anda rasakan? Apa yang terbersit di dalam hati anda sembari mata melotot ke pantat mobil pribadi itu? Atau sebaliknya, biasanya menggunakan motor, tapi untuk suatu keperluan anda harus menggunakan mobil, tiba-tiba di jalanan ada sebuah motor yang ternyata sama merk dan warnanya dengan motor anda. Apa pula yang ada di benak anda melihat motor itu melaju tanpa dosa dan mengharuskan anda menginjak pedal rem secara tiba-tiba.

Hari ini, dengan kendaraan pribadi, entah motor atau mobil, anda harus dipaksa menekan rem secara mendadak hanya karena ada bis kota yang berhenti tiba-tiba tepat di depan moncong kendaraan anda. Rasa marah, sebal, panik, emosi dan kesal hanya dilampiaskan pada klakson. Namun ketika harus menggunakan angkutan umum, setelah menunggu 15 menit di halte yang tak beratap dan terkadang berbau pesing, tiba-tiba lewat sang metro mini yang tenga ditunggu. Metromini atau angkot ini pun berhenti menghampiri anda. Lalu, apa yang anda rasakan tatkala angkota atau metromini ini harus berhenti mendadak karena melihat anda yang pasti mengurangi beban setoran hari ini. Salahkah seorang sopir metromini itu berhenti secara tiba-tiba dan menghalangi mobil pribadi yang terus-menerus membunyikan klakson? Sementara anda sudah 15 menit menunggu dengan penuh peluh.

Atau pernahkah anda menggunakan bajaj yang asapnya melambung ke langit biru? Pernahkah pula anda merasakan naik becak yang jalannya seperti keong sampai kendaraan dibelakangnya harus menekan gas dengan sangat hati-hati? Pernahkah pula anda dengan kendaraan pribadi harus sabar berada di belakang bejak atau bajaj sampai ada kesempatan lengang dan bisa menyalipnys? Atau pernahkah anda marah-marah bis kota seakan tak merespon teriakan STOP atau KIRI dari anda saat tiba di tempat tujuan hanya karena di belakangnya ada mobil lain yang hendak melaju cepat? Atau pernahkah anda berada di belakang metromini/angkot yang berhenti tiba-tiba karena hendak menurunkan penumpang?

Dan seterusnya dan seterusnya. Namun satu hal, bahwa terkadang kita emosi dan merasa paling benar hanya karena kita tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Harusnya kita bisa berefleksi, bahwa ketika di angkot, secara taksadar kadang kita seakan membenarkan tindakan angkot tersebut menyerobot ke kiri dan ke kanan demi kepentingan penumpang. Demikian pula ketika di taksi, seakan kita berharap agar sopir taksi bisa menginjak gas sekencang-kencangnya agar kita cepat sampai ke tujuan. Saat di motor, kita selalu ingin menyalip mobil, karena dalam pikiran kita orang-orang yang ada di mobil pasti lebih nyaman dengan AC dan full musik. Saat di mobil, kita pun menggerutu bahwa kitalah yang paling benar, karens kita sudah sabar menanti laju roda mobil yang ada di depan. Kita marah ketika ada angkot yang tiba-tiba menyodok jalur di depan kita.
Itulah jalanan, semua orang membawa kepentingannya masing-masing, sama seperti kita. Namun adalah sebuah kebijaksanaan bila kita bisa memaklumi kendaraan lain yang tiba-tiba menyerobot atau berhenti di depan kita. Itulah pula yang mengharuskan kita merasakan ragam pengalaman yang dirasakan oleh orang lain agar mengetahui apa yang dipersepsikan oleh seseorang terhadap objek yang ada di hadapannya. Upaya untuk merasakan pengalaman orang lain ini pula yang menciptakan rasa tenggang rasa antar sesama, karena kita sama-sama tahu penderitaan kita masing-masing yang hanya menjadi korban semrawutnya pengaturan jalan raya.

Terakhir, sebuah ungkapan dari Nitzsche menarik pula untuk disimak, bahwa semakin banyak informasi yang diterima oleh seseorang, semakin membuat orang itu memiliki pandangan yang terbuka, tidak fanatik dan merasa paling benar sendiri. Sehingga, ragam pandangan ini mendorong seseorang untuk menghormati ragam pandangan, sikap dan saling mentoleransi keputusan apa yang diambil orang lain. Dan, jalanan, dengan ragam kendaraan yang dapat anda gunakan dan manfaatkan, dapat meminimalisasi rasa kebencian anda terhadap orang lain dan mengarahkan kita pada sikap saling toleransi terhadap kepentingan dan pilihan orang lain. Memang jalanan ibarat hutan rimba, namun ketika anda menghormati pilihan orang lain dan memahami kondisi yang membuat pilihan itu dipilih, maka jalanan dapat menjadikan ajang untuk memperkuat rasa tenggang rasa dan toelransi di antara kita. Hal ini pula membuktikan bahwa sikap intoleran bukanlah sebuah tingkat final yang harus diterima (granted), tetapi dapat diubah melalui latihan-latihan dan eksperimen yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari umat manusia. Sekian.

One thought on “Belajar Toleransi dari Padatnya Jalanan

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s