Antara Syiah, Ahmad Wahib, dan Tafsir Fanatisme | By Abdul Aziz

Antara News, 16 Sept 2012

“Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain”.

Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi Al Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa Islam yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah Islam menurut Allah”.

Catatan harian almarhum Ahmad Wahib, seorang wartawan Majalah Tempo asal Sampang dalam buku “Pergolakan Pemikiran Islam” itu memang tidak ada kaitannya dengan tragedi yang menimpa kelompok Islam Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012. Tapi catatan yang ditulis oleh orang Sampang sendiri ini seolah telah menggiring kita untuk mengingat tragedi Sampang pada tanggal 26 Agustus 2012.

Wahib memang tidak banyak dikenal, tidak sepopuler para pembaharu pemikiran Islam lainnya di Indonesia, semisal Noercholish Madjid, Dawam Raharjo, Djohan Effendi dan Mukti Ali, termasuk mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid.

Praktik atas interpretasi Islam yang dipersepsikan Wahib adalah proses menuju kebenaran yang sebenarnya (mutlak), bukan dalam kebenaran itu sendiri. Yakni Islam dalam proses menuju kesempurnaan, menuju kebenaran, bukan dalam klaim kebenaran itu sendiri, yang pada akhirnya bisa melahirkan fanatisme yang berlebihan.

Atau mungkin dengan kata lain, bukan Islam menurut Syiah, Islam menurut Sunni, bukan Islam menurut Al-Irsyad, Hidayatullah, atau Islam menurut aliran-aliran pemahaman lain yang juga mengatasnamakan Islam.

Dalam halaman 27 dari yang diberi judul “Islam Menurut Saya = Islam Menurut Allah” itu, pemikiran Wahib memang bukan pemikiran mayoritas umat Islam, tetapi hanya sebatas coretan kegelisahan hati seorang Wahib akan Islam yang sebenarnya.

Diakui atau tidak, klaim atas tafsir keagamaan memang sering kali berlebihan, sehingga menghapus toleransi dan berbagai pemahaman yang berbeda. Jihad atas nama agama ataupun stigma “kami yang benar dan mereka yang sesat” seolah menjadi legitimasi untuk melakukan tindakan melanggar hukum.

Tragedi Sampang pada tanggal 26 Agustus 2012, nampaknya salah satu bentuk fanatisme akan klaim kebenaran atas tafsir pemahaman Islam yang terlalu berlebih, sehingga ruang perbedaan paham dianggap sebagai ancaman.

Direktur Central of Religion and Political Studies (Centries) Madura, Sulaisi Abdurrazak, menilai, tragedi di Sampang, memang bagian dari klaim kebenaran berlebihan atas tafsir keagamaan, disamping memang ada persoalan pribadi di antara penganut Syiah dan Sunni.

Padahal, kata dia, wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya adalah bersifat multak. Akan tetapi ketika sampai kepada manusia yang serba nisbi, relatif atau terbatas, maka tafsir atas wahyu yang bersifat mutlak itu juga kemudian menjadi nisbi. Yakni sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri.

“Nah di sinilah ruang dialog antara kemutlakan dan kenisbian mendapatkan tempat untuk melahirkan tafsir keagamaan yang berbeda,” katanya.

Pada masa Nabi Muhammad, memang tidak ada perbedaan dalam memahami dan menafsirkan
wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Nabi, karena ‘sang penafsir tunggal’, yakni Nabi Muhammad itu sendiri masih hidup. Namun setelah beliau wafat, aliran pemahaman keagamaan (mazhab) pun berkembang.

Sebut saja seperti Mazhab Imam Hambali, Imam Hanafi, Maliki dan Mazhab Imam Syafi’i, termasuk Syiah.

Mazhab Hanafi didirikan oleh Imam Abu Hanifah. Mazhab Hanafi adalah yang paling dominan di dunia Islam yakni sekitar 45 persen, penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syria, Lebanon
dan Palestina (campuran Syafi’i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan).

Mazhab Maliki, didirikan oleh Imam Malik, diikuti oleh sekitar 25 persen Muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara. Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk Madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup, dan meninggal di sana; dan kadang-kadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits.

Selanjutnya Mazhab Syafii memiliki penganut sekitar 28 persen Muslim di dunia. Pengikutnya tersebar terutama di Indonesia, Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.

Lalu, Mazhab Hambali dipelopori oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5 persen Muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.

Aliran Syiah adalah kelompok aliran Islam yang juga berkembang dalam dunia Islam dan di satu sisi adalah memiliki pemahaman berbeda dengan empat mazhab yang ada.

Syiah atau lebih dikenal lengkapnya dari kalimat bersejarah Syiah ‘Ali pada awal mula perkembangannya juga banyak memiliki aliran. Namun hanya tiga aliran yang masih ada sampai sekarang, yaitu Itsna ‘Asyariah (paling banyak diikuti), Ismailiyah dan Zaidiyah (mirip Sunni).

Di dalam keyakinan utama aliran ini, Ali bin Abu Thalib dan anak-cucunya dianggap lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai khalifah dan imam bagi kaum muslimin.

Selain Syiah dan Sunni, sejarah peradaban Islam juga mencatat ada aliran lain yang juga pernah ada di dunia Islam, yakni Khawarij.

Mazhab Khawarij mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya karena melakukan takhrif (perdamaian) dengan Muawiyah bin Abu Sufyan yang mereka anggap zalim.

Awalnya, mazhab ini berpusat di daerah Irak bagian selatan. Kaum Khawarij umumnya fanatik dan keras dalam membela mazhabnya, serta memiliki pemahaman tekstual Al Quran yang berbeda dari Sunni dan Syiah.

“Fakta adanya kelompok pemahaman keagamaan yang semua Islam ini, sering tidak tersampaikan secara lengkap kepada generasi muda Islam, dan mereka tidak diperkenalkan seperti apa jenis pemahaman yang mereka anut,” kata Sulaisi.

Kalaupun ada yang sebagian lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan mengenai aliran pemahaman keagamaan yang berkembang dalam dunia Islam, maka dari sisi penyampaian tidak secara utuh.

Akibatnya opini yang terbangun aliran yang berbeda dengan mayoritas adalah sesat dan tidak berhak hidup di tengah-tengah kelompok mayoritas.

Pola berpikir seperti ini terkesan sama dengan pola pikir, “Jika ada 1 orang waras berhadapan dengan 5 orang gila, maka 1 orang yang waras ini juga bisa dipersepsi gila di hadapan 5 orang gila tersebut”.

“Tapi saya kira kasus penyerangan kelompok minoritas oleh kelompok mayoritas di Sampang itu tidak seperti itu,” kata Sulaisi menambahkan.

Tragedi Sampang, pada 26 Agutus 2012 telah menyebabkan satu orang tewas dan enam orang lainnya luka-luka, serta sebanyak 47 unit rumah pengikut aliran itu hangus dibakar kelompok penyerang.

Sebanyak 282 orang kini terpaksa hidup di pengungsian di gedung olahraga Wijaya Kusuma Sampang. Sempat ada pemikiran dari pemerintah, mereka akan direlokasi dengan mengikuti program transmigrasi, tapi menolak, lalu pemerintah berencana merelokasi untuk sementara agar mendapatkan fasilitas lebih memadai daripada di GOR Sampang seperti saat ini.

Perbedaan paham keagamaan memang sering disebut-sebut sebagai pemicu terjadinya konflik bernuansa SARA di Sampang, selain persoalan pribadi antara pimpinan Islam Syiah dengan salah seorang pengikut aliran Sunni.

Namun, Ketua Dewan Syuro Ahlulbait Indonesia (ABI) Dr Umar Shahab yakin, tragedi yang menimpa kelompok Islam Syiah di Sampang itu, karena provokasi oknum masyarakat yang tidak menginginkan umat Islam hidup secara damai.

Alasan Umar Shahab memang sangat beralasan, mengingat mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman dalam menyebutkan bahwa Syiah adalah “NU minus imamah”. Tradisi Sunni dan tradisi Syiah adalah sama, Al Qurannya sama dan sama-sama melafalkan dua kalimat syahadat.

Adanya kemungkinan provokasi dari pihak ketiga sebagaimana kecurigaan Umar Shahab, atau sentimen pribadi dalam kasus Sampang bisa saja benar.

Tapi “tafsir ke-Islam-an dalam proses menuju yang paling benar” sebagaimana pemikiran Ahmad Wahib, barangkali perlu untuk ditanamkan dalam diri umat Islam, agar tidak menimbulkan fanatisme berlebihan.

Sebab Islam sejatinya adalah agama yang menjadi rahmat bagi seru sekalian alam, agama yang toleran atas perbedaan, benci terhadap permusuhan, apalagi saling membunuh antarsesama umat Islam. (*)

Sumber: Antara News

 

 

 

One thought on “Antara Syiah, Ahmad Wahib, dan Tafsir Fanatisme | By Abdul Aziz

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s