Kafir Menjadi Pemimpin?

Agak rancu mendengar pernyataan Imam Mustofa Yakub dalam Indonesia Lawyer Club beberapa hari yang lalu terkait dengan ayat larangan menjadikan orangg kafir sebagai pemimpin, bahwa ayat tersebut qathi (pasti). KH Mustofa Yakub mengatakan, bahwa ayat ini jelas dan tidak  menerima penafsiran. Maknanya terang dan tidak dapat diperdebatkan.  Namun, di luar dari pernyataan ini, dengan mendasarkan kepada kaidah-kaidah Ushuliyah (Ushul Fiqh) dan Ilmu Alquran (Ulum al-Quran), ada beberapa hal yang harus lebih diperjelas dari pernyataan ini. 

Pertama, ayat Qathi (pasti) ada , yaitu: qathi dilihat dari segi turunnya ayat (proses) dan qathi yg dilihat dari segi pemaknaan (dilalah). Qathi dari segi proses, para Ulama sepakat bahwa seluruh Alquran diturunkan secara mutawatir (bersambung) dan semuanya sebagai kalam Allah SWT. KH Mustofa Yakub tepat bila menyatakan ayat yang dibacakan Rhoma Irama adalah qathi, yaitu secara prosesnya. Namun belum tentu secara substantif (dilalah), karena qathi secara proses turunya (wurud) ayat telah disetujui dan di-tashih (dibenarkan) oleh para sahabat, tabiin dan ulama, berabad-abad lamanya.

Sementara Qath’i secara makna (dilalah) menjadi sangat samar dan sumir, karena hanya Allah SWT dan Muhammad saja yang  mengetahui maksud dari Alquran. Hanya beberapa teks dan kata saja yang disepakati oleh Ulama tentang kejelasannya dan bahwa ayat itu tak membutuhkan lagi akal pikiran untuk menafsirkannya, apalagi takwil. Dalam konteks Alquran hanya diketahui oleh Allah dan Rasul inilah umat Islam tidak bisa mengklaim pemahamannya terhadap Alquran adalah benar atau bahkan paling benar. Sebaliknya, KH. Mustofa Yakub, Rhoma Irama, atau siapapun yang memberikan makna terhadap ayat tersebut adalah sebatas penafsiran belaka. Bukan bersifat qathi. Ada potensi benar di dalamnya, sebagaimana potensi salah tak dapat dihindarkan. 

Kedua, bahwa kafir dalam  Alquran justru masih sangat debatable, kepada siapa dia ditujukan. Apalagi, ayat yang dikutip oleh Roma Irama, sang Raja Dangdut itu, tidak secara tegas melarang untuk mengambil pemimpin dari Nasrani, atau Yahudi atau nama agama tertentu. Yang digunakan ayat ini adalah “sifat” dari seorang pemimpin, yaitu “kafir”. 

Kembali ke beberpa penafsiran Ulama, kafir diartikan sebagai “penutup”. Penutup di sini dpt diartikan dengan ragam pemaknaan. Kafir dapat saja dimaknai dengan pengingkaran, penolakan atau yang lebih  ekstrem lagi  adalah penyerangan (Untuk lebih jelasnya tentang makna kafir dapat dilihat Tafsir Alquran Kontemporer, halaman 83). Maka itu, makna kafir harusnya disematkan dengan sifat, bukan dengan identitas agama atau keyakinan tertentu.

Ketiga, hal ini semakin kuat tatkala di akhir ayat ini, kata kafir dikaitkan dg kata munafik, yang di dalam sumber-sumber Islam disebutkan dengan 3 karakter, yaitu berkata ia bohong, berjanji ia ingkar dan diberi amanah ia khianat. Lagi-lagi, ayat ini menyebutkan sifat orang yang  hendak dijadikan pemimpin. Bukan dengan identitas pemimpin apa yang tidak boleh didukung. 

Selanjutnya, bukti lain yang dapat diungkap adalah, bahwa Rasulullah sebelum Hijrah dan membentuk komunitas Muslim di Madinah, memerintahkan para sahabat untuk meminta perlindungan kepada Raja-raja yang ada di sekitar jazirah Arab. Tidak semua raja itu Muslim, bahkan hampir semuanya non-Muslim. Lalu, apakah dengan menyuruh sahabat untuk menjadikan para raja-raja itu sebagai pelindungnya Rasul telah melanggar Alquran? Tidak mungkin Rasul melanggar Alquran. Mustahil. 

Sehingga, pemaknaan kafir dalam ayat itu yang harus diperkuat. Pendefinisiannya harus dengan sifat, bukan identitas suku, ras, warna kulit, ataupun agama. Bila tidak, maka umat Islam akan terjebak pada kepicikan penafsiran. Apalagi, untuk kepentingan politikus  yang bau tikus. Terus terang saya katakan, bahwa saya bukan pendukung Jokowi atau Foke, tapi ketika Alquran dijual dengan harga murah untuk kepentingan politik, saya merasa tidak rela dan kurang pas di hati. Di luar dari tulisan ini, terima kasih pula kepada mas Akhmad Sahal yang sudah menuliskan secara terang dan gamblang tentang kebolehan pemimpin non-Muslim (Pemimpin Non-Muslim Haram?), agar pada masa yang sudah jauh dari masa Rasulullah ini, umat Islam dapat betul-betul mengetahui hakikat ajaran Islam yang paling dekat dengan kehendak Allah SWT, Tuhan Alam Semesta. 

Oleh: Hafiz Muhammad

 

 

 

2 thoughts on “Kafir Menjadi Pemimpin?

  1. Tulisan menarik, meskipun terdengar sayup2 di tengah pendapat diametral yang lantang bersuara. Terimakasih mas hafiz. Saya, sebagai warga nasrani, merasa adem dan merasa di ‘owongke’ kembali atas pendapat anda, terutama dalam memaknai frasa ‘kafir’. Semoga makin banyak kalangan yang berani menyuarakan pesan2 yang meneduhkan, dan semoga anda dan orang2 yang anda sayangi selalu dalam lindungan Tuhan Allah. Amin

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s