Toleransi tanpa Apologi (Bagian III/akhir)

Lanjutan dari Bagian II dan Bagian I

Ketidaktahuan kadang yang membuat kita membenci, “Tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang”. Sebaliknya, dialog antariman justru dapat menyatukan molekul-molekul positif yang dimiliki oleh setiap pandangan, keyakinan atau agama. Wahib adalah salah satu contoh yang dapat disebutkan. Pergaulan intensnya dengan jemaat Kristen tatkala ia tinggal bersama seorang Romo di Yogyakarta justru memperkuat spiritualitasnya mencari sosok Tuhan dan kebenaran Islam.

Saya berkenalan dengan Wahib pada masa-masa awal kuliah di Ciputat. HMI waktu itu yang mendendangkan nama Wahib dalam diskusi-diskusi di dalam atau luar kampus. Setiap mentor/pembicara, untuk tidak mengatakan pasti, hampir semuanya menyebut nama Ahmad Wahib. Betapa tidak keinginan saya untuk mengenalnya lebih jauh semakin termantik. Melalui catatan harian yang dikumpulkan oleh Djohan Effendi saya mencoba untuk akrab dengan pemikiran Wahib, yang saat itu saya masih duduk di semester dua.

Sebagai lulusan pesantren beraliran salafi dan menggandrungi politik Islam Hasan al-Banna, bagi saya, Wahib saat itu sosok yang sangat nakal. Betapa tidak, ia tak segan-segan bertanya tentang Tuhan, mengkritik ulama, bahkan tak jarang “mengkerdilkan” Islam. Namun, di luar itu, Wahib telah merangsang saya untuk selalu menggali agama Islam secara utuh, sebagaimana pula ia lakukan. Wahib telah membuat saya berani untuk berfikir dan menaiki gerbong pembaruan Islam, keluar dari kotak pandora yang penuh fatamorgana, merengguk hawa segar pemikiran yang lebih objektif dan mengajak berkenalan dengan beragam pemikiran Islam. Yang utama, saya mampu keluar dari Islam fanatik yang doyan mengkafirkan, menyalahkan ataupun membenci umat lain, intra ataupun antar umat beragama.

Suatu ketika, saya sempat mengikuti sebuah pelatihan dialog antaragama yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Budaya UIN Jakarta. Secara kebetulan dan saya bersyukur dengan itu, saya ditempatkan di sebuah kamar bersama dengan salah seorang peserta yang beragama Budha. Walaupun nama sang teman ini sedikitpun tak menempel dalam ingatan, seorang guru agama sebuah sekolah Budha di Tangerang ini telah mengajari saya akan suatu hal yang masih teringat sampai sekarang. Ia sosok yang sangat asyik diajak berdiskusi, tak terkecuali tentang agamanya.  

Tak banyak informasi yang kuketahui tentang agama ini. Mungkin hanya satu buku yang berjudul Passing Over editan Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus saja yang menjadi modal saya untuk berdikusi dengannya. Hampir setiap hal dalam agama ini saya tanyakan, tak terkecuali pula tentang pandangan lama saya sebelum hijrah terkait Tuhan umat Budha yang berbentuk patung. Tentu hal ini masuk dalam listing pertanyaan, karena peristiwa penghancuran patung-patung oleh Nabi Ibrahim di dalam Alquran telah menjadi pegangan kuat bagi saya betapa jadahnya menyembah patung.

Kejujuran saya untuk lebih mengetahui tentang Budha dijawab pula oleh rekan ini dengan kejujuran. Ia menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan, walaupun pada titik akhir diskusi tentang Tuhan dan patung, ia tak bisa untuk menyebutkan “siapa” Tuhan umat Budha. Namun, dari jawabannya pula saya berfikir, ternyata selama ini saya telah salah memandang keyakinan umat Budha yang menjadikan patung sebagai Tuhan. Ya, diskusi tak formal ini telah mengajari saya tentang kesungguhan umat Budha untuk beribadah dan bertemu dengan Tuhan.

Terlepas dari beragamnya pandangan tentang tuhan di kalangan internal Budha sendiri, Bagi umat Budha, saya mendapati jawaban rekan ini, bahwa Tuhan menurut penganut Budha adalah zat yang tak dapat didefinisikan, Dia hanya bisa dirasa dan diraih oleh para individu yang berupaya mengejar dan mencarinya. Dia tak serendah ucapan di kedua bibir manusia, namun ia menguasai seluruh jiwa dan raga manusia. Hanya mereka yang berusaha dan bersungguh-sungguh mencari saja yang dapat merasakan keagungan dan kekuasaan Tuhan itu.

Dari sini, sayapun teringat dengan latihan-latihan spiritual yang dilakukan oleh kalangan sufi yang berupaya sekuat tenaga untuk mencapai tingkat kesatuan dengan Tuhan (ittihad atau hulul). Dari sini pula, sayapun semakin yakin tentang kesalahan besar umat Islam yang telah dibombardir dengan dunia materi nan positivis, karena ketidakmampuan mencapai titik tertinggi Ilahiah, kita seringkali mengutamakan simbol dibandingkan substansi. Mengutamakan syariat dibandingkan hakikat. Akibatnya pula, Tuhan yang seyogyanya harus dicapai oleh setiap insan melalui usaha dan latihan, justru dikerdilkan dengan hanya satu kata, “allah” (dengan huruf kecil).

Tak dapat diingkari, Tuhan kita terlalu terdefinisikan hingga Dia harus kehilangan substansinya. Tuhan hadir dalam kehidupan sehari-hari kita, tapi sayang hanya di bibir. Kita meyakini Tuhan adalah Satu, Maha Segalanya dan Berkuasa atas Manusia, tapi sisi lain tak jarang kita kehilangan Tuhan. Sejauh ini, dengan diskusi dan pertemuan dengan rekan-rekan penganut Budha, fenomena hilangnya Tuhan tidak saya jumpai di kalangan penganut Budha, karena bagi umat ini, tidak ada yang dapat mengklaim paling tahu tentang Tuhan dan mendikte Tuhan seperti apakah yang harus mereka cari.

Entahlah, apakah Wahib juga dipengaruhi oleh cara bertuhan Budha, namun yang saya pahami dari sosok santri Madura ini di dalam catatannya, ia sama persis dengan sosok Budha yang selalu mencari kebenaran hakiki dari setiap tarikan nafas dan tingkah polanya. Ia selalu merasa tidak tahu dengan Tuhannya dan karenanya ia selalu mencari dan berusaha mencapainya. Membaca catatan harian Wahib 16 Agustus 1970 berikut menampakkan sosok Wahib yang gelisah, gusar dan penasaran dengan Islam yang menjadi sarana mencapai kebenaran hakiki;

Islam jangan lagi dipandang sebagai bangunan emas yang megah yang bisa dipuja di mana kita mungkin hidup di dalamnya dengan berbuat atau tidak berbuat, tapi Islam bisa ada atau tidak tergantung pada ada atau tidak adanya kekerasan kerja dalam diri kita masing-masing untuk mengamalkan ajaran-ajaran spiritual Islam.” (16 Agustus 1970)

Dari catatan di atas, Wahib tak ma(mp)u mengklaim kebenaran, karena baginya siapapun berhak untuk mencapai-Nya. Ia pun tak kuasa untuk menyalahkan, mengkafirkan atau menghukumi iman seseorang, karena bagi Wahib, yang “(P)aling dekat dengan untuk mengerti yang mutlak (Tuhan) itu adalah puncak dari kenisbian akal…. Kejar dan kejar terus puncak kenisbian itu. Hanya dengan demikian kita akan makin dekat pada kemutlakan dari Yang Maha Mutlak” (15 Oktober 1969). Dengan kenisbiannya, setiap orang berhak dekat dengan kemutlakan dari Yang Maha Mutlak itu.

Kesibukan Wahib mencari Tuhannya tak menyempatkan ia untuk turut campur dengan iman orang lain, apalagi menghakimi. Ia hanya bisa menghormati upaya pencarian setiap orang, apa dan bagaimana cara atau hasilnya, karena ia sangat paham bahwa setiap insan berhak mencapai kebenaran-kebenaran dari sebuah Kebenaran. Kembali saya menduga-duga tentang sosok fenomenal ini. Dugaan ini pun, lagi-lagi, saya tak dapat membuktikannya secara pasti, yaitu apakah Wahib telah dipengaruhi oleh beragam pandangan kaum sufi tenar yang mencapai tingkat penyatuan diri dengan Tuhan. Mari simak sebuah syair Al-Hallaj tatkala ia menyaksikan seorang Muslim bertengkar dengan seorang Yahudi dan saling memaki. Ditulis oleh Ilham Masykuri Handie, Al-Hallaj berkata:

Aku memikirkan agama-agama dengan sungguh-sungguh, kemudian sampailah pada kesimpulan.  Bahwa ia mempunyai banyak sekali cabang, Maka janganlah sekali-kali mengajak seseorang kepada suatu agama, Karena sesungguhnya itu akan menghalangi untuk sampai pada tujuan yang kokoh. Tetapi ajaklah mereka melihat asal sumber segala kemuliaan dan makna, maka dia akan memahaminya.

Terlepas dari apa atau manapun Wahib mendapatkan imannya, suatu hal menjadikan Wahib tak berbeda dengan kaum sufi atau umat Budha, yaitu suatu pandangan yang merelatifkan kebenaran-kebenaran ad hoc capaian manusia dan mengharuskannya untuk hanya berpegang pada kemampuan, usaha dan hati nurani sendiri, demi mencapai Kebenaran Hakiki. Hal ini pula yang setidaknya menjadi prasyarat penting bagi Wahib untuk menjadi seorang Muslim toleran dan pluralis, berdamai dengan perbedaan, dan mampu merayakan kebebasan (beragama) pada dirinya sendiri. Wallahu A’lam.

Jakarta, 7 Juli 2012

Hafiz Muhammad

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s