Toleransi tanpa Apologi (Bagian I)

Ibarat jamur di musim penghujan, kekerasan dan tindakan intoleransi dengan dalih agama di Indonesia di masa reformasi semakin tumbuh subur. Beragam upayapun dilakukan; teologis, hukum, budaya, bahkan politik. Namun sayangnya tak juga memberikan hasil memuaskan. Sebaliknya, kasus-kasus kekerasan dan intoleransi yang mengatasnamakan agama semakin meluas dan massif, melampaui dugaan sebelumnya yang masih dirasa dapat dikendalikan.

Kekerasan terhadap Ahmadiyah semakin menjadi-jadi dan tak segan memakan korban jiwa. GKI Taman Yasmin Bogor dan HKBP Philadelphia Bekasipun menjadi bulan-bulan kelompok Islam intoleran saban hari minggu. Pagelaran diskusi yang menghadirkan Irshad Manji di sejumlah daerah dibubarkan, bahkan oleh aparat kepolisian. Ironisnya lagi, kelompok Syiah – yang sejak awal tidak pernah diprediksi – justru saat ini berada di barisan minoritas korban, sebagaimana terjadi di Sampang, Madura.

Sebagai altenatif dan berharap Negara memberikan perlindungan kepada seluruh warga negara Indonesia, kelompok masyarakat sipil yang selalu berharap dapat merayakan pluralitas berupaya menggunakan mekanisme internasional PBB untuk menekan Indonesia menyelesaikan tindakan intoleransi akut ini. Tak ayal, kasus-kasus kekerasan dan intoleransi di Indonesia yang secara telanjang menganga menjadi perhatian komunitas internasional. Sejumlah rekomendasipun disampaikan agar selama periode empat tahun mendatang pemerintah Indonesia dapat lebih meningkatkan melindungi dan memenuhi hak kebebasan beragama/berkeyakinan. Nama Indonesiapun tergadai, karena untuk mempertahankan predikatnya sebagai Negara muslim terbesar yang paling toleran, moderat dan demokratis, Indonesia harus mampu menyelesaikan kasus-kasus intoleran yang mencoreng prestasi itu dalam kamus diplomasi dunia.

Respon Kekanak-kanakan dan Apologi

Bukan perhatian komunitas internasional ini yang menarik, tetapi  respons di dalam negeri pasca keluarnya rekomendasi tersebut. Saya sempat tertegun, ternyata tingginya perhatian dunia terhadap kondisi kebebasan beragama di Indonesia yang semakin memperihatinkan telah membuat sebagian umat “kebakaran jenggot”. Tak sedikit respons dari dalam negeri yang menolak predikat negatif ini, baik secara individu atau institusi, yang semuanya, menurut saya, dapat dikatakan bernada apologetik.  

Sikap apologetik menguat di Indonesia pada era 60 sampai 70-an tatkala umat Islam menghadapi derasnya laju modernisasi dan menguatnya fenomena “kristenisasi”. Untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, Wahibpun nampaknya menulis di catatan hariannya adalah karena memang saat itu deman apologia cukup nyaring di komunitas Muslim. Bahkan, sahabat dan pengumpul catatan-catatan harian Wahib, Djohan Effendi, sempat terjebak pada sikap apologi sebelum ia bergabung ke HMI (Ahmad Gaus, 2009: 62).

Saya memang belum sempat mengalami kondisi yang disebutkan di atas, namun untuk konteks saat ini, nampaknya sayapun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh sementara aktivis Muslim era itu. Sikap apologi ini kembali santer tatkala Indonesia dinyatakan sebagai Negara muslim terbesar di dunia yang tidak toleran. Beragam pernyataan membuncah yang menyasar aktivis kebebasan beragamapun keluar dan menuduh bahwa mereka tidak cinta kepada Negara dan tanah air. Bahkan, tuduhan liberal, sekular dan anti-Islampun disematkan kepada aktivis kebebasan beragama/berkeyakinan.  

Koran Republika menjadikan tema toleransi sebagai kajian utama selama beberapa minggu setelah munculnya rekomendasi PBB. Koran ini juga merilis berita bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat toleran, di mana gereja dan masjid dapat berdiri secara berdampingan. Koran ini juga mengungkap fakta pembangunan gereja yang meningkat 600 persen dari tahun sebelumnya, dibandingkan masjid yang hanya meningkat …. persen. Bahkan, dalam sebuah rubrik tanya jawab yang biasanya mengulas “kawin-cerai” justru diisi dengan pertanyaan yang menyasar kelompok LSM liberal.

Di samping itu, organisasi masyarakat (Ormas) terbesar kedua di Indonesia setelah Nahdhatul Ulama (NU) juga menolak bila Indonesia dinyatakan intoleran. Seorang kyai NU ternama, mantan wakil presiden, KH Hasyim Muzadi, mengirimkan sebuah pesan singkat blackberry (BBM) ke pimpinan Front Pembela Islam (FPI) yang juga menolak bila umat Islam Indonesia dikatakan intoleran, dengan nada pembelaan bahwa toleransi Indonesia jauh lebih baik daripada Denmark, Swedia ataupun Norwegia.

Yang paling membuat saya shock dan tak habis pikir tatkala Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menggalang pertemuan dengan sejumlah ulama dan ormas Islam untuk menyikapi buruknya citra Indonesia ini. Kembali, tuduhan-tuduhan LSM liberalpun mencuat dalam forum tersebut, bahkan rapat ini menghasilkan kesepakatan agar setiap ulama yang berkhutbah pada Jumat esoknya dengan tema toleransi dalam Islam dan mengecam tindakan LSM liberal yang menyebarkan berita intoleran ke luar negeri.

Bagi saya memang aneh, mereka yang merasa terganggu dengan label intoleran ini bukannya mendesak Negara untuk menyelesaikan permasalahan intoleransi oleh kelompok Islam tertentu yang berhawa radikal, seperti penyegelan gereja Taman Yasmin dan HKBP Philadelpia Bekasi, kasus Ahmadiyah atau pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura, yang sebetulnya sebab utama buruknya nama Indonesia. Sebaliknya, akidah inferior yang masih digandrungi oleh kelompok radikal ini menyebabkan mereka masih berkutat di wilayah pembelaan belaka.  

Melihat rentetan peristiwa pembelaan yang dilakukan oleh umat Islam ini, saya langsung teringat dengan salah satu catatan Ahmad Wahib tentang apologia sepertiga abad yang lalu di dalam Catatan Hariannya. Sayapun makin yakin, bahwa kita, sebagai umat Islam, tak jarang masih terjebak pada sikap apologetik, yang dicirikan oleh Ahmad Wahib, dengan:

Pertama, kalau merasa diserang, yang bersangkutan akan menangkis atau membela diri. Kedua, kalau merasa akan diserang, yang bersangkutan akan bikin “excuse” lebih dulu. Ketiga, ada kecenderungan membangkit-bangkitkan kembali hal-hal yang lama. Keempat, tidak jarang mengagung-agungkan kejayaan masa lampau. Dan kelima, normatif. (6 Februari 1970)

Cukup menjelaskan, penolakan segelintir umat Islam terhadap kritik komunitas internasional ini merupakan sebuah pembelaan diri dan menangkis tudingan-tudingan tersebut, padahal senyatanya kondisi intoleransi di Indonesia memang tak dapat ditutup-tutupi. Sikap membanding-bandingkan Islam Indonesia dengan negara lain pun menjadi senjata, padahal secara lebih jujur mereka bisa membandingkan kondisi intoleransi di Indonesia dewasa ini dengan sikap Rasulullah dan para sahabat tatkala menghadapi kelompok umat lain yang berbeda agama.

Pada saat yang bersamaan, seperti yang disinggung Wahib dalam catatannya di atas, sebagian umat Islam yang sempit hatinya cenderung kembali mengumbar-ngumbar slogan bahwa Indonesia – yang mayoritas muslim ini – adalah Negara yang paling demokratis, toleran dan menghargai kebebasan beragama. Tindakan intoleransi di depan mata oleh segelintir umat Islam, FPI, FUI, MMI, MUI atau HTI, misalnya, selalu ditutup-tutupi dengan beragam klaim dan pembelaan, menolak realitas dan fakta, serta mengajukan argumentasi-argumentasi normatif.

Saya cukup heran betapa para apolog ini dapat melupakan begitu saja keganasan sekelompok preman bersorban di Cekuesik, Banten, yang mereguk nyawa sesama muslim tanpa belas kasih. Para apolog juga mengecualikan kasus GKI Taman Yasmin Bogor dan HKPB Philadelphia Bekasi sebagai kasus intoleransi, padahal putusan Mahkamah Agung sudah cukup memberikan kejelasan bahwa memang aparat dan pejabat daerah setempat yang memang ngeyel. Untuk itu pula, pernyataan Wahib nampak relevan, bahwa perasaan diserang oleh kelompok luar – apalagi Barat – telah memaksa kelompok Islam membela diri. Dalam membela diri tersebut, demikian Wahib, “Seorang apolog akan berusaha mengungkapkan apa-apa yang dianggap kuat dan benar dalam diri dan golongannya. Dia defensif. Dia bergerak sekedar untuk melawan tekanan yang dirasakannya. Tidak lebih. Pikirannya merasa repot menghadapi lingkungannya”. Nampaknya, catatan Wahib 10 April 1970 sangat relevan untuk disimak. Ia menulis, bahwa sikap apologetik itu muncul, karena:

1. (K)ekurangmatangan umat Islam setelah baru saja lepas dari tindasan umat-umat di luarnya; 2. (P)roses timbal balik yang terjadi masih menempatkan umat Islam sebagai kekuatan kecil yang terkepung dari segala arah.

Serangan-serangan terhadap umat Islam mengakibatkan mereka apologis. Sikap apologis mengakibatkan mereka lebih eksklusif dan karenanya lebih terkepung dan sebagainya.

Secara historis, sikap apologetik telah ada sejak dulu. Catatan-catatan Wahib menjadi saksi sikap umat Islam saat itu dalam menyikapi modernisasi global Barat, walaupun agak sulit memang membuktikan apakah umat Islam era pasca kemerdekaan sampai 70-an telah terjangkiti penyakit ini atau belum. Namu, tulisan Lutfi Asy-Syaukanie dalam Ideologi Islam dan Utopia (2011: 92), saya kira, dapat membantu kita untuk menelaah fenomena ini, ketika ia menjelaskan tentang model politik umat Islam. Lutfi membuktikan, bahwa eksponen model 1 politik Islam yang –mendukung berdirinya Negara Muslim – di antaranya diwakili oleh Muhammad Natsir dan Masyuminya, telah menunjuk Barat sebagai model ideal demokrasi. Fakta ini, di luar dari kemungkinan untuk berkiblat dengan Barat dalam demokrasi, umat Islam yang cenderung fundamentalis pada dasarnya masih berada pada kungkungan peradaban Barat, terkepung dan tak jarang mendorong mereka berapologi.

———

Bersambung ke Bagian II

2 thoughts on “Toleransi tanpa Apologi (Bagian I)

  1. Pingback: Toleransi tanpa Apologi (Bagian III/akhir) « majority consensus, minority rights

  2. Pingback: Toleransi tanpa Apologi (Bagian II) « majority consensus, minority rights

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s