Tanggapan Akhmad Sahal terhadap Tulisannya Tentang Nabi Palsu (Bagian I)

Setelah mengupload tulisan mas Akhmad Sahal yang dimuat Koran Tempo pada Februari 2011 berjudul “Nabi Palsu, Sikap Nabi dan Ahmadiyah” saya langsung konfirmasi ke penulis bahwa artikelnya tersebut saya muat di blog ini. Dengan pertimbangan bahwa umat Islam harus mengetahui sejarah Islam secara benar dan dengan sumber yang otoritatif, saya upload tulisan tersebut.Ternyata, artikel yang ditulis oleh kandidat doktor di Universitas Pennsylvania ini telah mendapatkan respond yang beragam di tanah air. Dari mas Sahal pula saya diarahkan untuk membuka tulisan panjangnya tentang tema tersebut, tak lama setelah ia menusli di Tempo.

Tak sedikit apresiasi yang disampaikan oleh intekeltual muslim yang merindukan kedamaian di bumi, namun ada pula pelbagai pendapat yang merespon secara negatif artikel tersebut. Bersyukur, artikel ini direspond pula dengan tulisan, sehingga dialektika akademis (dialog) dapat dilakukan secara obyektif dan dengan argumentasi yang valid.

Pentingnya artikel tersebut, termasuk pula segala respond dari kalangan konservatif dan tanggapan Akhmad Sahal atas artikel tersebut, akhirnya saya putuskan untuk mengetengahkan kembali perdebatan ini di tengah rekan semua untuk lebih memperluas cakrawakala pemikiran keislaman kita dan tidak tunduk secara buta pada suatu pandangan yang masih dapat diperdebatkan.

Terima kasih, selamat membaca.

—————————–

By Akhmad Sahal

Tulisan saya di Koran Tempo,Nabi Palsu, Sikap Nabi dan Ahmadiyah” ditanggapi secara keras oleh Dr. Syamsuddin Arif di Hidayatullah.com dengan judul  Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah dan Ahmad Rofiqi di notes facebook-nya dengan judul “Kasus Nabi Palsu dan Sikap Rasulullah Saw: Tanggapan Terhadap Akhmad Sahal di Majalah Tempo” dan dimuat dalam blog Pemikiran Islam

Kedua penanggap tersebut pada intinya menegaskan bahwa gerakan murtad apapun bentuknya harus diperangi dengan tanpa kompromi, dan kaum murtad harus dibunuh. Dr. Syamsuddin Arif mengklaim bahwa sikap Nabi Muhammad SAW dan khalifah Abu Bakr sangatlah tegas dalam memerangi gerakan nabi palsu, baik yang membangun kekuatan militer seperti dalam kasus Musailamah al-Kazzab, maupun yang tidak, seperti kasus al-Aswad al-‘Unsi dan Thulaikhah bin Khuwailid. Untuk memperkuat pendapatnya, ia mengutip surat ayat al-Qur’an ( al Ma’idah 33:34) dan hadist: “barang siapa menukar agamanya, maka bunuhlah.”

Senada dengan itu, Ahmad Rofiqi menganggap saya melakukan manipulasi dan distorsi ketika menyitir Tarikh al-Tabari dalam paparan saya tentang korespondensi antara Musailamah dan Rasulullah SAW, karena saya tidak menyertakan pernyataan lisan Rasul kepada utusan Musailamah: “Kalau bukan karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, sungguh aku memenggal leher kalian berdua.” Menurut hematnya, pernyataan lisan Rasulullah tersebut dengan jelas menunjukkan ketegasan sikap Nabi Muhammad dalam memerangi dan membunuh nabi palsu. Rofiqi juga menyatakan bahwa bahwa: (1) Rasul menjelang wafatnya mengirim pasukan untuk menumpas gerakan al-Aswad al-‘Unsi; (2) pidato khalifah Abu Bakr secara tegas menyatakan bahwa gerakan nabi palsu wajib diperangi tanpa terkecuali karena mereka telah keluar dari Islam.

Betulkah tuduhan Rofiqi bahwa saya telah melakukan distorsi dalam mengutip Tarikh al-Tabari? Benarkah klaim-klaim  Dr. Syamsuddin Arif dan Ahmad Rofiqi bahwa Nabi dan para sahabat memerangi nabi palsu karena semata-mata karena kemurtadannya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya akan memeriksa satu persatu data dan dalil yang mereka ajukan, dengan mengacu langsung pada Tarikh al-Tabari dan sumber-sumber primer lain, selain juga sumber sekunder yang relevan.

Musailamah Al-Kazzab

Bagi Rofiqi, sikap Rasulullah terhadap nabi palsu dan para pengikutnya secara jelas tercermin dari pernyataan beliau yang hendak memenggal kepala utusan Musailamah. Menurut Rofiqi, Rasul tidak membunuh utusan Musailamah semata-mata karena beliau menghormati etika diplomasi yang melarang utusan dibunuh. Dari sinilah Rofiqi menyimpulkan, Rasul dari awal hendak memerangi Musailamah karena telah murtad dari Islam.

Pertanyaan saya: kalau memang sikap Rasul dari awal seperti itu, mengapa beliau tidak mendeklarasikannya secara eksplisit dalam surat balasannya ke Musaylamah, yang justru lebih resmi dan langsung tertuju kepada Mu’awiyah? Mengapa justru hanya melalui pernyataan lesan ke kurirnya? Surat balasan Rasul, seperti saya kutip dalam tulisan saya di Koran Tempo, sama sekali tidak mengandung nada peringatan atau ancaman perang terhadap Musailamah. Rasul hanya menyebutnya al-Kazzab (pendusta).

Satu hal yang diabaikan oleh Rofiqi, Musaylamah tidak semata-mata mengaku Nabi, tapi juga dengan kejamnya telah membunuh seorang sahabat Rasulullah bernama Habib bin Zaid, utusan Nabi yang ditangkap oleh Musailamah saat melakukan perjalanan dari Bahrain ke Makkah. Peristiwa ini direkam dalam Al-Sirah Al-Nabawiyyah karya Ibn Hisyam (Vol. 2 halaman 57):

 

Ibn Ishaq berkata: maka keseluruhan orang yang menjadi saksi ‘aqabah dari suku Aus dan Khazraj ada 37, dua dia ntaranya perempuan. Dari Bani Mazin bin al-Najjar adalah Nusaibah bin Ka’ab..Dan dialah ibu Umarah. Dia dan saudara perempuannya ikut berperang bersama Nabi. Suaminya bernama Zaid bin Ashim bin Ka’b, dan dua putranya adalah Habib dan Abdullah bin Zaid. Musailamah sang pendusta (al-Kadzdzab), pemimpin Yamamah, menangkap Habib bin Zaid dan bertanya kepadanya: apakah kamu bersaksi Muhammad adalah utusan Allah? Habib menjawab ya. Lalu Musailamah melanjutkan, “apakah kamu bersaksi Musailamah adalah utusan Allah? Habib menjawab, saya tidak pernah dengar (tentang itu). Lantas Musailamah memutilasi tubuh Habib sampai dia meninggal.”

Pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Musaylamah terhadap Habib bin Zaid ini jelas menandakan adanya aksi makar dari pihak Musaylamah terhadap otoritas Nabi, yang kemudian berkembang menjadi pemberontakan terhadap pemerintahan khalifah Abu Bakr. Ini jelas suatu ancaman serius terhadap pemerintahan pusat di madinah, mengingat Yamamah, dengan lokasi geografisnya yang strategis secara politik dan ekonomi di jazirah Arab, memang sejak awal cenderung “mbalelo” terhadap Madinah. Untuk diketahui, sebelum Musaylamah tampil ke permukaan, Yamamah dipimpin oleh seorang kafir bernama Hawdzah bin ‘Ali. Hawdhah termasuk dalam sejumlah pemimpin yang disurati Nabi untuk diajak masuk Islam. Ini terjadi pasca perjanjian Hudaibiah. Dan respon Hawdzah penuh dengan sikap antipati thd Islam. Ketika Musaylamah tampil menggantikannya, kecenderungan untuk “mbalelo” dari pemerintahan pusat masih kuat tertanam di Yamamah.

Itulah kenapa gerakan Musailamah kemudian ditumpas oleh Khalifah Abu Bakr. Penyebabnya bukan semata-mata karena ia mengaku menjadi nabi, tapi juga membunuh seorang duta Nabi SAW, dan membangun armada militer yang mengancam kedaulatan Madinah.

Al-Aswad Al-‘Unsi

Dr. Arif dan Rofiqi menyatakan bahwa al-Aswad ibn Ka’b al-‘Unsi dibunuh oleh detasemen khusus yang dikirim oleh Nabi karena ia mengaku jadi nabi. Menurutnya, meski al-Aswad  tidak memberontak dan tidak membangun kekuatan militer, ia tetap dibunuh karena telah murtad.  Betulkah demikian? Mari kita periksa Tarikh al-Tabari. Pada halaman 189, Volume 3, Imam al-Tabari bertutur tentang Al-Aswad demikian:

 

“Kemurtadan dalam Islam terjadi pertama kali di Yaman ketika Rasululullah SAW masih hidup, yakni oleh Dzu al-Khimar Abhahah bin Ka’b ( al-Aswad) di tengah khalayak Madzhij, setelah haji Wada.’ Al-Aswad adalah seorang dukun; dia acapkali mempertontonkan hal2 ajaib, memikat hati para pendengar pembicaraannya. Pertama kali dia mengaku jadi Nabi saat muncul dari gua Khubban, tempat dia lahir dan dibesarkan. Madzhij berkorespondensi dgn Al-Aswad, menjanjikan tanah Najran utknya. Mereka berdua lalu menyerang Najran dan mengusir ‘Amr bin Hazm dan Khalid bin Sa’id bin al-‘Ash (yang diangkat Nabi sebagai  penguasa Najran, AS), dan al-Aswad tampil sebagai penggantinya. Qays bin Abd. Yaghuts menyerang dan mengusir Farwah bin Musayk (deputi Nabi) di Murad, dan menempatkan al-Aswad sebagai penggantinya. ‘Abhalah al-Aswad tidak hanya berhenti di Najran tapi juga menguasai San’a.’ (huruf tebal dari saya, AS). Berita tentang kemunculan al-Aswad dan tindakannya merebut San’a’ tersebut akhirnya sampai ke telinga Nabi SAW. Itulah berita pertama yang diterima beliau dari Farwah bin Musayk. Orang2 Madzhij yang masih setia pada Islam lalu bergabung dengan Farwah, dan mereka berada di al-Ahsiyyah. Al-Aswad tidak mengontak Farwah dan tidak mengirimkan kurir, karena dia merasa Farwah tidak menjadi ganjalan buatnya. Al-Aswad menguasai Yaman secara utuh.”

Masih dalam kitab yang sama, al-Tabari menyatakan bahwa al-Aswad membunuh gubernur Yaman, putera Badham yang diangkat oleh Nabi untuk menjadi gubernur wilayah Yaman. Bukan hanya itu, Aswad juga merebut istri sang raja yang dibunuh tersebut (Tarikh al-Tabari 3:218). Data lain tentang Al-Aswad juga bisa kita temukan dalam Al-Sirah Al-Nabawiyah karya Ibn Hisyam (w.312 H/834). Pada halama 189, Volume IV, Ibn Hisyam memaparkan perkataan Ibn Ishaq tentang betapa Al-Aswad melakukaan penyerangan terhadap delegasi yang ditugaskan Nabi untuk memungut shodaqoh/zakat di pelbagai wilayah Arab yang sudah dikuasai Islam. Coba simak kutipan berikut:

Ibn Ishaq berkata: “Nabi mengirim sejumlah gubernur dan agen beliau untuk memungut dan mengumpulkan zakat ke segenap penjuru tanah Arab yang sudah dikuasai Islam. Beliau mengirim al-Muhajir bin Umayyah bin al-Mughira ke San’a, dan al-Aswad al-‘Ansi tampil menyerangnnya ketika ia berada di sana (huruf tebal dari saya, AS). Beliau mengirim Ziyad bin Labid, saudara Bani Bayadha al-Anshari ke Hadramaut. Nabi mengirim Adiy bin Hatim ke Tayyi dan Bani Asad; Malik bin Nuwairah al-Yarbu’I ke Bani Hanzala. Beliau membagi tugas penarikan zakat dari Bani Sa’d ke dua orang: Zibriqan bin Badr dan Qays bin Ashim, masing2 bertanggungjawab dgn bagiannya. Nabi juga mengirim al-Ala’ bin al-Hadrami ke Bahrain, dan Ali bin Abu Thalib ke penduduk Najran untuk mengumpulkan zakat mereka dan membawa ke Nabi jizyah mereka.”

Penting untuk dicatat, paparan Ibn Hisyam tentang laporan Ibn Ishaq tersebut adalah dalam konteks pembahasannya tentang fenomena munculnya dua Nabi palsu: Musailamah dan al-Aswad. Dari situ bisa disimpulkan sekurang-kurangnya dua hal: gejala kemunculan nabi palsu pada masa itu sangat erat kaitannya dengan gerakan pembangkangan terhadap pembayaran Zakat, yang sudah berlangsung semenjak masa Nabi, dan semakin membesar pada masa khalifah Abu Bakr. Kedua, al-Aswad al-‘Unsi jelas jelas melakukan penyerangan terhadap delegasi Nabi bernama al-Muhajir bin Umayyah bin al-Mughirah.

Dari tiga bukti tekstual tentang al-Aswad yang saya paparkan di atas, jelas bahwa nabi palsu Al-Aswad Al-‘Unsi dan pengikutnya ditumpas bukan semata-mata karena murtad, tapi karena al-‘Unsi melakukan makar: menyerang agen pengumpul zakat dan membunuh gubernur yang dua-duanya diangkat Nabi Muhammad. Ini sekaligus memuktikan bahwa klaim Dr. Arif dan Dr. Rofiqi tentang Al-Aswad sama sekali keliru.

 

Tulaikhah bin Khuwailid

Dr. Syamsuddin Arif menyebut kasus Thulaikhah bin Khuwailid sebagai contoh nabi palsu yang tetap diperangi oleh Nabi dan para Khalifah-nya meski dia tidak membangun kekuatan militer. Betulkah begitu? Tarikh al-Tabari Volume 3 halaman 232 ternyata secara telak meruntuhkan klaim Dr. Arif tersebut. Al-Tabari menulis:

Tidak lama setelah ditaklukkan, nabi palsu dan sejumlah pengikutnya kembali memeluk Islam karena cemas akan nasib keturunan mereka, dan karena melindungi diri mereka sendiri dari Khalid bin Walid dengan cara memenuhi tuntutannya. Dengan begitu mereka mendapatkan jaminan keamanan. Thulayhah bin Khuwailid pun bertahan dgn cara itu. Dia pindah tempat di kalangan Kalb di Naqa,’ memeluk Islam dan tetap berdiam di sana sampai Abu Bakr wafat. Dia kembali ke Islam lagi setelah tahu bahwa Asad, Ghothfan, dan ‘Amir juga kembali ke Islam lagi. Lalu Thulayhah pergi ke Makkah untuk menjalankan umrah dengan melewati Madinah. Saat itu Khalifah Abu Bakr RA masih hidup. Sang khalifah diberi tahu kalau Thulayhah sedang di Madinah, tapi beliau hanya menjawab, “Saya mesti berbuat apa ke dia? Biarkan saja, toh Allah sudah memberinya petunjuk utk kembali ke Islam.” Thulayhah akhirnya bisa menuju ke Makkah dan ber-umrah. Lalu pada saat Umar bin al-Khattab menjadi khalifah, Thulayhah datang untuk menyatakan sumpah setia ke Umar. Lalu ‘Umar bilang ke Thulayhah, “kamu pembunuh ‘Ukkasyah dan Tsabit, demi Tuhan, aku sama sekali tidak suka kamu.” Mendengar itu, Thulayhah menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, mengapa engkau risau dengan dua orang yang justru dimuliakan oleh Allah di akhirat lantaran perbuatanku, sementara Allah tidak menghinakan daku melalui tangan mereka berdua?” Akhirnya ‘Umar menerima sumpah kesetiaan Thulayhah. Lalu ‘Umar bertanya, “hai mantan nabi palsu, apa yang masih tersisa dari keahlian dukunmu?” Jawab Thulaihah, “satu atau dua tiupan pada alat peniup.” Setelah peristiwa tersebut, Thulayhah kembali ke wilayah suku asalnya dan tetap berada di sana sebelum menuju Irak.

Kutipan di atas menarik karena menggambarkan bagaimana Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab memberi kesempatan kepada nabi palsu Thulaikhah bin Khuwailid untuk kembali memeluk Islam dan bahkan dibiarkan melakukan ‘umrah. Patut diingat, Thulaikhah bukanlah nabi palsu yang tidak punya pasukan militer. Ketika digempur pasukan Islam pimipinan Khalid bin Walid, Thulaikhah berhasil membunuh sahabat dekat Nabi, Ukkasyah bin Mihsan. Tapi Thulaikhah lolos. Dalam keadaan terdesak dan tidak punya kekuatan menyerang, Thulaikhah kemudian masuk Islam. 

Kalau memang kemurtadan langsung diganjar dengan hukuman mati seperti ditegaskan Dr. Arif dan Rofiqi, Khalifah Abu Bakr tentu tidak akan memberi kesempatan orang seperti Thulaihah bin Khuwailid untuk kembali ke Islam–apalagi masuk Islamnya demi alasan keamanan, seperti dinyatakan al-Tabari–, tapi langsung memenggalnya. Tapi nyatanya Thulaikhah dibolehkan masuk Islam lagi. Artinya apa? Seorang murtad yang tidak melakukan penyerangan dan pemberontakan terhadap umat Islam tidak lantas dikenai hukuman mati. Pintu tobat tetap terbuka baginya, seperti kasus Thulaikhah. Lagi-lagi pendapat Dr. Arif dan Rofiqi terbantahkan.

Baca lanjutan Bagian II

One thought on “Tanggapan Akhmad Sahal terhadap Tulisannya Tentang Nabi Palsu (Bagian I)

  1. Pingback: Tanggapan Akhmad Sahal terhadap Tulisannya Tentang Nabi Palsu (Bagian II) « membumikantoleransi

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s