Kita: Dia-Lo-Gue

Dengan beragam arti dan bahasa, keempat kata ini hampir selalu diucapkan oleh setiap manusia di seluruh dunia. Rangkaian kata yang juga selalu diajarkan pada tahap awal tatkala seseorang mempelajari suatu bahasa tertentu. Bila diindonesiakan, kira-kira keempat kata ini berarti: Kita, Dia, Kamu dan Aku. Namun adakah maksud dari penulisan kata tersebut? Mari kita urai bersama-sama, di sini.

Sebetulnya, rangkaian kata yang tak membentuk kalimat ini sengaja disusun demikian untuk menggabungkan dua penafsiran yang berbeda, namun terkait. Pertama adalah jelas hanya bermakna literal dari kata-kata tersebut, yaitu “Kita” yang terdiri dari “dia, kamu dan aku”. Lalu apa implikasinya bila “kita” merangkul ketiga subyek yang lain?  Tentu tak banyak faedah bila memaknainya hanya sebatas kata-kata. Namun, bila “kita” dimaknai sebagai keseluruhan dari setiap subyek yang ada di dunia atau mungkin seluruh makhluk yang ada di dunia, maka rangkaian ini akan berarti lain.

Kelainan arti itu terletak pada pengakuan atas persaudaraan setiap insan dan makhluk, tanpa sekat dan jarak yang memisahkan. Bandingkan tatkala “kita” berbicara atau mengimbau kepada sejumlah rekan untuk melakukan sesuatu, dengan menggunakan “Aku harap kamu semua berkomitmen terhadap organisasi ini!” dengan suatu ungkapan “Aku harap kita semua berkomitmen terhadap organisasi ini!”. Adakah perbedaan di antara keduanya? Tentu kita semua tahu jawabannya.  

Ini cuma suatu tamsil. Lebih dari sekedar ungkapan kata-kata, “Kita” mendorong sebuah sikap universal untuk saling mengasihi dan menyayangi seluruh umat manusia, tanpa mengenal latar belakang apapun, baik agama, ras, suku, budaya atau bangsa. Untuk itu pula, memaknai “Dia, Lo, Gue” dengan “Kita”, sama halnya memandang bahwa manusia adalah setara dan sama.

Lalu apa penafsiran kedua dari rangkaian kata ini?

Pertama, hilangkan tanda strip ( – )  yang ada di antara “Dia, Lo, Gue”, maka rangkaian kata ini akan menjadi “Dialogue”. Tentu rekan semua sudah dapat memahami apa yang dimaksud dari kata tersebut, yang dikenal dalam bahasa Indonesia dengan Dialog.

Artinya, untuk membentuk sebuah pemahaman yang sama terhadap sesuatu dan membentuk suatu kesatuan kesadaran dalam “Kita”, setiap orang, dia, kamu dan aku, harus melakukan dialog secara terus-menerus. Tanpa adanya dialog, setiap insan tentu hanya akan berpijak pada pemahaman dirinya sendiri dan menempatkan insan lain di bilik yang berbeda-beda. Bukankah suatu konflik agama dimulai dari adanya streotipe terhadap kelompok agama/keyakinan tertentu? Dan, tentunya, streotipe itu muncul dari ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk memahami satu sama lain, di antaranya disebabkan dari tertutupnya ruang-ruang dialog antar pihak.

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia telah mengalami kondisi tersebut. Rasa curiga-mencurigai di antara penganut agama/keyakinan begitu tinggi, para tokoh agama (lokal terutama) tidak mampu bercengkarama satu sama lain, serta Pemerintah tidak membuka ruang dialog yang cukup untuk hanya sekedar menyantap hidangan ubi rebus dan kopi hangat.  Kasus konflik Situbundo, misalnya. Hal ini pula setidaknya yang mendorong Djohan Effendi menguras otak dan pikiran untuk membangun sebuah ruang diskusi, formal dan informal, di antara banyak tokoh agama, yang diharapkan dapat meredam kerucigaan antar sesama.

Dua pemaknaan inilah yang menurutku menjadikan keempat kata di atas menjadi penting dalam konteks keindonesiaan dewasa ini ataupun dalam konteks global. Mengakhiri tulisan ini, saya teringat dengan sebuah tulisan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam Majalah Prisma tahun 1980-an, yang mengulas tentang proses akomodasi HAM di dalam Konstitusi. Dalam proses pembentukan UUD 1945, dikisahkan bahwa Soepomo awalnya menolak dimasukkannya rangkaian pasal hak asasi manusia di dalam UUD 1945, bersama-sama dengan Soekarno. Namun apakah kejadian ini terulang tatkala Indonesia membentuk UUD RIS dan mengapa pasal-pasal Deklarasi HAM Universal (DUHAM) justru diduplikasi di dalam UUD RIS?

Menurut Gus Dur, dalam pembentukan UUD RIS tersebut, Soepomolah orang yang paling ‘ngotot’ agar pasal-pasal HAM ini dimasukkan, di samping Hatta dan Yamin yang mendukung sejak awal. Hal ini tentu tak luput dari proses dialogis yang dijalani oleh Soepomo dan singkatnya, pemahaman ini terbentuk di dalam jiwa Soepomo tatkala ia berkunjung ke Belanda dan berdiskusi secara langsung dengan pelbagai ahli hak asasi manusia. Cerita tersebut memperlihatkan kepada kita semua bahwa dalam kondisi tertentu terkadang dialog yang secara terus-menerus dilakukan dapat memberikan pemahaman yang utuh terhadap suatu permasalahan, sehingga syak dan prasangka yang membentuk adanya streotipe lambat laun dapat diminimalisasi.

Dan, Lo, Gue, Dia dan Kita semua harus selalu menjalin “Dialogue” secara kontinyu untuk merawat keberagaman Indonesia.  

Jakarta, 4 Mei 2012 | Muhammad Hafiz

9 thoughts on “Kita: Dia-Lo-Gue

  1. Bagaimana pendapat anda tentang Ahmadiyah yang dianggap telah menghina Islam, seperti adanya fatwa MUI? Apakah umat Islam salah bila mengajak Ahmadiyah untuk kembali kepada Islam, bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti di Cikuesik Banten?

    • Terima kasih komentarnya. Menurutku, Ahmadiyah berhak untuk mengimani apa yg telah mrk pahami dan terima. Soal benar dan salah, semuanya menjadi ketetapan Allah sebagai Tuhan kita. Ada baiknya anda baca beberapa postingan saya soal Ahmadiyah dan dari situ akan lebih mengetahui tentang posisi saya.
      Soal fatwa, MUI dapat saja meneluarkan fatwa, namun hal itu tak dapat dijadikan pegangan penuh, apalagi mengikat, karena yg mengetahui stu-satunya Kebenaran hanyalah Tuhan.
      Dari sini, saya tidak setuju dg kasus Cikeusik, karena bertentangan dg nilai-nilai Islam ataupun hukum di Indonesia.

  2. Pingback: Oleh-oleh Benang Ruwet dari Jayapura | mantancakrabyuha

    • Terima kasih mas telah memanfaatkan “dia-lo-gue” untuk mengurai benang-benang ruwet dan telah memberi informasi tentang Jayapura. Saya sangat senang bila kita bisa saling membantu untuk mencari jawaban suatu permasalahan.

    • Terima kasih komentarnya. Untuk pencetus, saya tidak mau mengklaimnya, karena rumusan kata ini saya lihat di salah satu iklan acara di televisi swasta. Dari iklan yang sekilas (karena bermaksud mencari program TV yang bagus di antara banyak stasiun TV) saya langsung melihat kata ini ditampilkan di layar tv. Dari kilasan iklan ini, saya coba menerawang dan merumuskan dalam tulisan seperti ini.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s