Gamal Al Banna: Pluralitas adalah Kehendak Allah

Intelektual terkemuka Mesir, Gamal Al Banna –adik kandung pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna- dalam acara International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Jakarta beberapa waktu lalu menyatakan bahwa kemajemukan (pluralitas) merupakan kehendak Allah.

Menurut Gamal, Islam tidak hanya mengakui paham pluralisme. Lebih daripada itu, pluralisme merupakan “jantung” dari ajaran Islam itu sendiri. Tokoh yang semenjak tahun 1946 meneriakkan pentingnya pemahaman baru terhadap doktrin Islam ini melandaskan pandangannya di atas kepada beberapa ayat Al Quran, seperti dalam surat Al-‘Ankabut ayat 46 dan surat Ali ‘Imron ayat 84. Dalam dua ayat ini disinyalir, seorang mukmin harus beriman kepada semua para Nabi dan semua kitab Tuhan yang diturunkan kepada para utusannya (Al-Islam: 2004: 159). 

Lebih jauh Gamal Al Banna menegaskan, pluralisme merupakan kehendak ilahi (irâdah ilâhiyah). Oleh karenanya, dalam Al Quran banyak disebutkan bahwa “Jika berkehendak, niscaya Tuhan menjadikan manusia satu umat.” Namun Tuhan tidak menghendaki kehidupan “satu warna”. Akhirnya, Tuhan Yang Esa, Bapak yang satu (Adam), Ibu yang satu (Hawa) dan agama yang satu (kepasrahan) telah menjadikan banyak warna dengan semua perbedaan yang ada. Manusia tidak diberikan mandat untuk menghakimi semua perbedaan itu. Karena, semua manusia akan kembali kepada Tuhan. Dan saat itu, Tuhan akan memberitahukan hakikat perselisihan yang terjadi di antara manusia (ilallâhi marji’ukum jami’ân, fayunabbiukum bimâ kuntum fîhi takhtalifûn).


Tokoh Pembaruan Fikih

Gamal Al Banna juga dikenal sebagai seorang tokoh pembaruan fikih di Mesir. Pembaruan yang dilakukan Gamal di ranah ini tidak kalah tajamnya dengan yang telah disampaikan di atas. Terutama terkait dengan hukum Islam atau fikih. Sebagaimana dimaklumi, pembaruan fikih telah cukup lama menggelegar di dunia Islam. Namun demikian, ibarat petir, wacana pembaruan fikih selama ini hanya “menyambar” ke sana ke mari di atas langit sana. Sementara “hujan” yang didambakan tidak kunjung datang. 

Baru pada bulan Desember 1995 “hujan” itu turun menyirami dunia Islam yang sejak lama “mendung” dengan wacana pembaruan fikih. Pada bulan itu Gamal Albanna meluncurkan bukunya yang berjudul Nahwa Fiqhin Jadid (menuju fikih baru) jilid pertama. Kemudian disusul dengan jilid kedua (1997), dan terakhir jilid ketiga (1999).

Tak tanggung-tanggung, tombak pembaruan fikih Gamal langsung “menusuk” jantung persoalan; yaitu dasar hukum Islam. Sebagaimana dimaklumi, dasar hukum Islam yang populer selama ini adalah; Alquran, Hadis, Ijma’ dan Qias. Dengan buku ini Gamal merombak dan menata ulang dasar hukum Islam di atas menjadi; Akal, Nilai-nilai Universal Alquran, Sunnah dan Adat Istiadat. Suatu terobosan pemikiran yang belum pernah ada di masa dahulu, bahkan juga hingga sekarang. 

Namun demikian, tak sedikit tokoh yang kontra dengan pembaruan Gamal Al Banna. Setidaknya, hal ini dilakukan oleh mayoritas ulama Al-Azhar dan ulama Ikhwanul Muslimin. Bahkan Lembaga Riset Al-Azhar, Majma’ al-Buhûts al-Islâmi, membredel salah satu buku beliau berjudul Masyuliyyatu ad-Daulah al-Islâmiyah (Tanggung Jawab Kegagalan Negara Islam). 

Sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya pembaruan yang dilakukan oleh Gamal Al Banna, Komunitas Mata Air menerbitkan ulang bukunya yang berjudul “At-Ta’addudiyah Fil Mujtama’ al-Islâmi” (Pluralitas dalam Masyarakat Islam) dalam edisi Bahasa Indonesia. Insya Allah, peluncurannya akan diselenggarakan di Jakarta dalam waktu dekat ini. (Disadur dari www.http://www.gusmus.net tahun 2006)

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s