Intelektual dan Ulama Muda Indonesia Dukung Fatwa Syiah Sesat

 

Sengaja kutipan berita ini dibuat berwarna merah. Hal ini untuk menunjukkan permasalahan serius yang telah menjangkiti umat Islam Indonesia saat ini. Tuduhan dan stigma terhadap kelompok tertentu, secara khusus Syiah, telah membutakan mata sebagian umat Islam terhadap Islam itu sendiri. Dengan alasan bahwa Syiah seringkali menuduh para sahabat Nabi Muhammad dan dengan beragam hal lain yang dipandang sesat, sekelompok umat Islam yang mengatasnamakan Intelektual dan Ulama Muda Indonesia mendukung fatwa Syiah sebagai aliran Sesat. Suatu sikap yang tergesa-gesa dan tanpa mengkaji lebih jauh tentang permasalahan. Lebih dari itu, kelompok ini telah melupakan permasalahan terbesar umat Islam saat ini yang tengah dilanda krisis multidimensi, tetapi sibuk mengurusi permasalahan keyakinan yang hanya Tuhan sendiri mengetahui kadar dan ukurannya. Secara historis, para Ulama teologis/kalam memosisikan Syiah sebagai salah satu aliran teologis, bukan aliran yang sesat. Namun nampaknya, anak-anak muda sekarang merasa lebih pintar dan jago dari para Ulama terdahulu, bila tidak karena adanya faktor politik atau kepentingan tertentu segelintir orang.  Wallahu A’lam.

Masihkah kita harus mengambil hak Tuhan untuk menjustifikasi benar tidaknya suatu pemahaman? Bukankah memberikan label sesat kepada kelompok Islam tertentu adalah menandingi kekuasaan dan pengetahuan Allah yang Maha segalanya? Bukankah pula Rasulullah sangat menjaga agar umatnya tidak saling menuduh dan menyesatkan, dengan sebuah ungkapan “Barang siapa yang mengkafirkan seorang Muslim, maka ia telah menjadi kafir” (man kaffara mukminan fa qad kafar)? Mengapa kita justru tidak saling berdialog dan memecahkan masalah secara bijak dan memandang bahwa setiap orang punya hak untuk meyakini apa yang dianggapnya benar? Bila Rasulullah tidak pernah marah dan merasa terhina dengan cercaan, hinaan dan penganiayaan terhadapnya, lalu mengapa kita sebagai umatnya yang justru lebih marah? Dan, bila orang-orang Syiah telah dianggap menghina para sahabat Nabi SAW, lalu tidakkah sejarah membuktikan bahwa hina-menghina, tuduh-menuduh dan fitnah-memfitnah telah terjadi sejak berakhirnya masa kehidupan Rasulullah?

Dalam kondisi demikian, yakinlah dengan apa yang engkau imani? Tambah kadar keimananmu dari waktu ke waktu! Jangan pula menghakimi keimanan dan keyakinan seseorang yang hanya diketahui oleh Allah SWT semata.

—————————————————–

Jakarta, Rabu, 21 Mar 2012

Para intelektual dan ulama muda Indonesia mendukung fatwa MUI Kabupaten Sampang dan MUI Propinsi Jawa Timur tentang sesatnya ajaran Syi’ah.

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) terus memantau secara ilmiah dan syar’iyah penanganan kasus Syiah di Sampang-Madura yang meresahkan warga masyarakat dan mengancam persatuan dan keutuhan bangsa. Berdasarkan investigasi MIUMI, doktrin Syi’ah yang dikembangkan di Madura adalah pemicu pertikaian di Madura. Pasalnya, doktrin Syi’ah itu mengusik akidah warga Sunni Nahdlatul Ulama (NU).

“Dari kasus Syi’ah Sampang ini, kita dapat memetik pelajaran penting bahwa masyarakat warga Sunni NU yang dikenal sangat toleran pun merasa sangat terusik dengan ajaran-ajaran Syi’ah yang dikembangkan Tajul Muluk yang bersumber dari doktrin-doktrin utama Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah,” jelas Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam rilis yang diterima voa-islam.com, Rabu (21/3/2012).

MIUMI juga menyesalkan sikap elit politik hanya memanfaatkan dukungan suara umat Islam yang mayoritas dalam setiap kebijakan pembangunan Indonesia, tapi tidak melindungi akidah mayoritas umat Islam. “Pemerintah RI dan elit politik lalai dan tak peduli untuk melindungi akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Akidah bagi umat adalah persoalan hak asasi yang paling fundamental,” ujar Fahmy.

Menurut MIUMI, akidah Aswaja itu telah menyatu dan tertanam kuat menjadi bagian terpenting kultur Islam di Indonesia. Umat yang terusik akidahnya bisa melakukan apa pun untuk membela dan mempertahankan akidah yang dianutnya.

Karenanya, MIUMI mendukung dua fatwa MUI tentang kesesatan syi’ah, yang dirilis pasca peristiwa pembakaran rumah pendakwah Syiah Tajul Muluk dan beberapa fasilitas lainnya yang terjadi pada 29 Desember 2011.

“Alhamdulillah, Fatwa dari kedua institusi ulama yang dihormati oleh masyarakat Madura dan Jawa Timur itu mampu meredam aksi massa paska Kasus Syi’ah di Sampang yang sempat menjadi isu nasional menjelang pergantian tahun lalu,” ujar Dr Hamid Fahmy Zarkasyi didampingi Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

Dua fatwa yang dimaksud MIUMI adalah Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sampang dan Fatwa MUI Propinsi Jawa Timur. Fatwa MUI Kabupaten Sampang No. 035/MUI/Spg/I/2012, tertanggal 1 Januari 2012 menyatakan kesesatan ajaran yang Syiah yang diisebarluaskan Tajul Muluk di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Sedangkan Fatwa MUI Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012, tertanggal 21 Januari 2012 secara tegas menyatakan kesesatan ajaran Syi’ah.

Dua fatwa tersebut, menurut MIUMI adalah bukti kesigapan para ulama MUI Madura dan MUI Propinsi Jawa Timur, sebagai bentuk tanggung jawab keulamaan dalam membimbing umat. “MIUMI mengungkapkan terimakasih kepada para Ulama Madura dan Jawa Timur yang cepat tanggap menyikapi Ajaran Syi’ah sebagai bentuk tanggung jawab keulamaan dalam membimbing umat,” ujar Fahmi. [A. Mumtaz]

Sumber: voa-islam.com

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s