Alquran yang Diam…

Salah satu aspek penting yang menjadikan Ramadhan menjadi bulan kramat bagi umat Islam adalah di dalamnya diturunkan al-Qur’an. Diketahui al-Qur’an sendiri menjadi pegangan dan salah satu dari dua hal yang ditinggalkan Rasul. Namun, al-Qur’an sendiri hanyalah teks yang menyimpan segudang makna. Ia tak dapat berbicara seperti halnya para ustadz di kampung. Ia juga tak dapat berteriak seperti jeritan seorang muazzin di masjid. Kebisuan al-Qur’an pula setidaknya menjadikannya sangat fenomenal dan kontroversial dalam sejarah umat Islam.

Karena sebagai sumber dasar dalam Islam, al-Qur’an sendiri dinilai sangat suci. Dalam rentang sejarah bahkan tak sedikit umat Islam bertengkar dalam menentukan statusnya. Bahkan, cukup kuat dalam ingatan kita, Imam Ahmad bin Hanbal merasakan siksaan yang sangat tragis dari al-Ma’mun ketika harus mengakui bahwa al-Qur’an bukan makhluk. Pun pula dengan tindakan Mirza Ghulam Ahmad dianggap sebagai pelecehan terhadap al-Qur’an karena dianggap berusaha membuat Kitab baru setelah al-Qur’an sebagai kitab terakhir. Demikian adanya, seolah umat Islam menjawab “janji Allah untuk menjaga al-Qur’an sampai akhir zaman”.

Kesucian al-Qur’an tak hanya sampai di situ, dalam konteks sejarah pula diketahui bahwa al-Qur’an, selain Sunnah Rasul, menjadi penyebab perbedaan pendapat. Terutama ketika Islam mulai memasuki zaman modern dan telah ditinggal oleh Rasul selama ratusan tahun. Dahulu, ketika terjadi masalah para sahabat langsung datang kepada Rasul, sehingga tak ada pertentangan. Namun sekarang, para ulama kembali kepada metodologi yang tersedia – atau dalam beberapa kasus menciptakan metode tersendiri dengan perangkat yang lebih modern – menafsirkan sendiri apa yang disampaikan Tuhan melalui kalam-Nya ini. Dari situ pula perbedaan pendapat tak bisa dihindarkan, apalagi dalam Islam tak dikenal istilah kependetaan yang memastikan maksud Tuhan tersebut.

Dalam masa kontemporer, setidaknya dua aliran besar yang berusaha melihat al-Qur’an. Pertama, kalangan tekstualis yang berusaha melihat al-Qur’an sebagai teks yang kaku dan harus diterapkan apa adanya. Konsekuensinya, Islam harus dilihat dalam kerangka al-Qur’an yang – dalam pandangan banyak tokoh kontemporer – sangat terikat dengan konteks sosio-kultural masyarakat tradisional Arab. Selain itu, ada pula kelompok yang tetap memegang tradisionalisme penafsiran seperti yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu. Dengan tetap menggunakan metode dan pernagkat yang tersedia, al-Qur’an berusaha ditafsirkan dengan kaca mata kontemporer, sehingga penafsiran al-Qur’an sendiri harus terikat dengan doktrin klasik, sembari mengikuti perkembangan zaman sekarang.

Kedua bentuk penafsiran di atas juga tak menjadi pilihan final para pemikir Islam saat ini, karena pada kenyataannya banyak ulama yang juga mencoba membuat satu kerangka baru dalam menafsirkan al-Qur’an terutama menggunakan perangkat ilmu pengetahuan modern. Dan tentu dalam hal ini penggunakan akal tak dapat ditinggalkan dan pengakuan bahwa al-Qur’an selalu relevan dengan konteks masyarakat menjadi tujuan. Bila diamati, meski tak semuanya dalam satu kerangka ini, para pemikir tersebut berusaha merelevansikan pesan al-Qur’an yang universal dengan konteks kekinian. Dalam pada itu, Islam diyakini sebagai agama yang datang kepada manusia hanya untuk sebuah keadilan dan kemaslahan, sehingga aturan-aturan al-Qur’n yang dianggap sebagai penghalang upaya perwujudan cita-cita tersebut harus ditinjau kembali. Demikian kiranya yang dilakukan oleh Muhammad Abduh,misalnya, ketika melihat poligami dalam Islam. Pun demikian kiranya ketika pemikir muslim kontemporer memaknai ayat-ayat jihad dalam al-Qur’an.

Dalam hal ini, harus diakui bahwa semua penafsiran yang diberikan oleh ulamai di atas adalah dalam rangka menjadikan Islam tetap berada dalam kejayaannya dan kesempurnaannya untuk menjawab tantangan zaman. Perwujudan dari perasaan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin diutarakan dengan sikap dan pendapat yang berbeda-beda. Maka itu, dalam konteks masyarakat modern saat ini, upaya penafsiran, selagi dengan niat yang suci, selalu berada dalam hubungan dialektis. Yaitu antara teks al-Qur’an yang suci dan limited dengan tindakan dan perubahan sosial yang unlimited. Kontekstualisasi inilah yang menjadi penting untuk dicatat, karena Islam sendiri berada di tengah-tengah masyarakat yang bebas memberikan pendapatnya.

Apalagi, dalam ruang lingkup Indonesia modern seperti ini, di mana Islam menjadi salah satu inspirator dalam pembangunan bangsa, hukum Islam misalnya, maka sudah sepantasnyalah hukum Islam itu seiring dengan keadilan dan kehendak masyarakat. Masyarakatlah yang akan merasakan dan memilih apakah Islam cukup adil bagi kehidupan mereka atau sebaliknya. Maka itu, ketika hubungan dialektis antara teks yang suci dan masyarakat yang selalu berubah tersebut akan selalu menimbulkan antitesa baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masing-masing.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s