Agama Tanpa Perdamaian

Refleksi akhir tahun ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) sebuah organisasi yang aktif mewujudkan perdamaian melalui agama menyimpulkan, di Indonesia agama belum menjadi media untuk mewujudkan kehidupan damai. Sebaliknya, agama malah menjadi alat pemicu konflik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sejatinya, agama datang untuk membangun damai di antara manusia. Keyakinan itulah yang menginspirasi para pendiri republik ini menggunakan nilai-nilai agama dengan formulasi yang amat indah, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam Pancasila, ideologi dan falsafah negara. Tentu harapannya adalah dengan menjadikan nilai-nilai agama yang amat sentral itu sebagai basis dalam pengelolaan kehidupan berbangsa akan terwujud suatu bangsa yang bukan hanya religius, tetapi juga mencintai perdamaian.

Menjadikan agama sebagai media untuk mewujudkan perdamaian dalam kehidupan manusia di mana pun merupakan cita-cita luhur umat beragama di seluruh dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia. Agama harus diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan perdamaian. Karena itu, religions for peace (agama untuk perdamaian) menjadi semboyan yang diproklamirkan para pemuka agama di berbagai belahan dunia saat ini.

Pertanyaan muncul, apa itu perdamaian? Ada banyak definisi tentang perdamaian, namun paling tidak, perdamaian harus menjamin tiga hal: penghargaan terhadap manusia sebagai makhluk bermartabat; perlakuan setara terhadap semua manusia tanpa membedakan unsur jenis kelamin, gender, bahasa, warna kulit, suku, ras, agama dan kepercayaan; dan pemenuhan hak asasi manusia tanpa diskriminasi sedikit pun.

Sangat jelas bahwa tidak mungkin ada perdamaian selama masih ada praktek diskriminasi, eksploitasi, dan kekerasan  terhadap suatu kelompok untuk alasan apa pun, termasuk atas nama agama; tidak ada perdamaian selama masih ada perilaku korupsi, nepotisme dan politik uang; tidak ada perdamaian jika masih ada kemiskinan dan kebutuhan pokok masyarakat belum terpenuhi; tidak ada perdamaian jika masih ada pelanggaran hukum dan kasus hak asasi manusia; tidak ada perdamaian tanpa upaya serius menjaga kelestarian alam.

Mengapa penting mempromosikan agama untuk perdamaian? Jawabnya sederhana, secara normatif semua agama mengajarkan tiga hal utama sebagai basis dalam perwujudan perdamaian, yaitu pentingnya penghargaan terhadap manusia sebagai makhluk bermartabat; perlakuan setara terhadap semua manusia tanpa kecuali; dan pemenuhan hak asasi seluruh manusia tanpa diskriminasi sedikit pun. Jadi, secara hakiki agama datang demi mewujudkan perdamaian.

Sayangnya dalam fakta realitas di negeri ini tidak demikian. Alih-alih jadi sumber damai, agama malah dijadikan alat pemicu konflik dan teror, agama diubah fungsinya sedemikian rupa menjadi komoditi politik dan kehilangan spiritnya sebagai sumber inspirasi damai. Bahkan, sebagian warga telah menjadikan agama sebagai berhala yang disembah. Akibatnya, atas nama agama, institusi agama berani mengeluarkan fatwa yang membuat sekelompok warga kehilangan haknya untuk beragama secara bebas, bahkan sekelompok warga rela membunuh sesama; atas nama agama, berbagai aksi teror dan bom bunuh diri pun terjadi; atas nama agama, sekelompok warga berani melarang warga lain mendirikan rumah ibadah meski telah lama memiliki izin bangunan; atas nama agama, pemerintahan kota berani mengeluarkan SK yang melawan keputusan MA; atas nama agama, pemerintah daerah berani menerbitkan perda-perda diskriminatif dan inkonstitusional.

Akibatnya, agama gagal memberi efek konstruktif pada pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Jangan heran, jika jumlah dana yang melimpah untuk pembangunan bidang agama sungguh-sungguh tidak efektif dalam meningkatkan kualitas moral dan religiusitas bangsa ini. Maraknya kasus pelanggaran hukum dan hak asasi manusia, semakin membengkaknya kasus korupsi dan nepotisme, semakin ramai pelaksanaan pilkada yang  culas dan sarat dengan politik uang, penyalahgunaan anggaran pembangunan, mafia hukum, tingginya angka kriminalitas, kekerasan, dan berbagai bentuk eksploitasi lingkungan. Semua itu merupakan cerminan masyarakat yang tidak bermoral, masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agama.

Perlu membangun budaya damai              

Diperlukan kerja keras dan upaya serius dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat sipil (civil society), dan terutama para pemuka agama demi menjadikan agama sebagai inspirasi perdamaian. Antara lain, perlu melakukan upaya-upaya rekonstruksi budaya, mengubah budaya kekerasan dan intoleran menjadi budaya damai (culture of peace), khususnya melalui pendidikan agama dalam arti seluas-luasnya, mulai dari pendidikan agama dalam keluarga. Mengapa perlu reformasi pendidikan agama? Sebab, pendidikan agama selama ini lebih banyak mengajarkan doktrin, ritual dan hal-hal bersifat legal-formalistik sehingga akhirnya lebih banyak melahirkan sikap permusuhan dan kebencian pada orang berbeda. Ini harus segera diakhiri.

Pendidikan agama perlu menggunakan pendekatan multikulturalisme dan berpijak pada nilai-nilai Pancasila dan prinsip pluralisme. Pendidikan agama hendaknya fokus pada upaya transformasi nilai-nilai moral, nilai-nilai universal kemanusiaan yang merupakan intisari agama, seperti keadilan, kebenaran, kejujuran, kemaslahatan, kedamaian, kesetaraan, kebebasan dan tanggung jawab. Perlu sekali mengubah budaya masyarakat yang eksklusif, intoleran, culas, dan senang kekerasan menuju budaya inklusif, toleran, jujur, bersih, humanis dan pluralis.

Terakhir, pendidikan agama harus mampu melahirkan manusia yang cinta damai dan berakhlak mulia. Semoga di masa depan pembangunan bidang agama yang menggunakan anggaran negara yang tidak sedikit jumlahnya itu sungguh dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang religius dan vokal menyuarakan perdamaian.

Musdah Mulia

Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (Agama untuk Perdamaian)

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s