Kepahitan Pengikut Sanghyang Kersa

14 Agustus 2006

PULUHAN tahun sudah Rusman, 57 tahun, hidup seperti paria di negeri sendiri. Semua birokrasi pemerintahan menjauhinya seakan ia pernah berbuat makar atau mengkhianati Tanah Air. Tengoklah status lelaki tua ini. Kendati sudah lama menikah dan memiliki dua anak yang kini sudah dewasa, negara tetap menganggap bapak ini sebagai bujangan.

Akibatnya, selama bertugas sebagai pe-gawai Dinas Pariwisata Kabupa-ten Kuningan, Jawa Barat, ia tak pernah mendapat tunjangan untuk anak dan istri. Kini, sesudah pensiun dan bila kelak ia meninggal, istrinya pun tak berhak menikmati uang pensiun. “Sam-pai pensiun ini, saya masih di-hitung sebagai bujangan,” ujarnya pasrah.

Semua kesulitan itu terjadi lantar-an Rusman menganut ajaran Sunda Wiwitan. Kantor catatan sipil di de-kat tempat tinggalnya di Cigugur, Ku-ning-an, tak mengakui pernikahannya. Pe-ga-wai di sana berdalih belum ada pe-tun-juk pelaksanaan yang membo-leh-kan pengesahan pernikahan adat ala Sunda Wiwitan.

Dalam kolom agama di kartu tanda penduduknya cuma terlihat tanda ku-rung dan di tengahnya diberi tanda strip. Di masa Orde Baru dulu, tanda seperti itu kerap membuatnya dicurigai di mana-mana. Pria bertubuh tam-bun itu dikira ateis atau pengikut partai terlarang.

Kepahitan hidup akibat diskrimina-si birokrasi seperti itu tak cuma diala-mi Rusman, tapi semua penganut Sun-da Wiwitan. Situasi itu tak banyak ber-ubah, pun pada zaman reformasi se-karang, ketika negeri ini sudah 61 tahun lepas dari belenggu penjajahan.

Kalau sekarang mulai ada catatan sipil di luar Cigugur yang mau meng-akui pernikahan pengikut Sunda Wiwit-an, “Itu setelah kita mengajukan gugatan ke pengadilan,” kata De-wi Kanti, 30 tahun. Perempuan pengikut Sunda Wiwitan itu termasuk gigih me-lakukan advokasi bagi komunitasnya.

Sunda Wiwitan merupakan salah satu aliran kepercayaan yang terhitung paling tua di Indonesia. Djatikusuma-, ayah Dewi-yang kini jadi kokolot alias pimpinan Sunda Wiwitan-menyebut kepercayaan itu sudah dianut orang Sunda sejak zaman dulu, jauh sebelum masuknya agama-agama besar yang kini diakui di Indonesia. Namun keyakinan itu tak disebut agama, melainkan wiwitan, yakni kepercaya-an yang pertama kali.

Sumber: Majalah Tempointeraktif

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s