Dekonstruksi Ideologi Syahidesme vis a vis Terorisme

Judul  : Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia; jejak Sang Pengantin Bom Bunuh Diri
Penulis  : Bilveer Singh &  Abdul Munir Mulkham
Penerbit : Jogja Bangkit Publiser, Yogyakarta
Tahun  : I, 2012
Tebal  : 159 hlm
Peresensi : Rafi’uddin*

Bias radikalisme-fundamentalisme yang melahirkan gerakan-gerakan islam keras di negeri ini tentu menjadi catatan sejarah sepanjang perjalanannya. Berbagai tragedi mengenaskan yang menggunakan atribut islam. Pengrusakan terhadap tempat-tempat maksiat yang ada di beberapa daerah negeri ini menjadi sasaran gerakannya dengan berlandaskan jihad di jalan Allah (fi sabilillah), dan barang siapa yang gugur tercatat sebagai hamba yang syahid yang dijanjikan balasan surga padanya kelak.

Mencari mati syahid menjadi prinsip suci mereka para pelaku bom bunuh diri. Mereka adalah penganut doktrin istisyhadi (mencari mati syahid) yang memegang kuat keyakinan teologis dan historis yang mereka anggap sebagai jalan kebenaan. Keyakinan yang menampakkan wajah kekejaman, di mata masyarakat yang hidup dalam kemajemukan peradaban dan agama. Namun sebaliknya, para penganut doktrin istisyhad ini merasa bahwa aksi yang mereka lakukan memiliki tujuan mulia bagi kemanusiaan dan menciptakan tata kehidupan dunia yang lebih damai dan sejahtera. Di sinilah garis batas keras mengenai cara pandang para penganut paham istisyhad terhadap kehidupan. Satu sisi mereka mendambakan kedamaian dan kebenaran yang sejalan dengan doktrin mereka, tetapi di sisi lain mereka tidak gentar mewujudkan pemahaman mereka sendiri walaupun nyawa taruhannya.

Kerusuhan di Ambon misalnya, yang terjadi pada awal September 2011 mengingatkan kembali pada tragedi teror yang lazim di negeri ini terjadi. Keagamaan menjadi latar belakang yang memicu gerakannya adalah bentuk konkrit dari pemahaman ajaran agama yang tekstual dan harfiah. Begitu juga aksi bom bunuh diri di depan Gereja Bethel Injili sepenunya kepunton Solo dan beberapa aksi bom bunuh diri yang terjadi sebelumnya, sarat dengan paham keagamaan yang radikal. (hlm 139)

Radikalisme muncul dari problem keagamaan yang timbul di tengah-tengah masyarakat yang majemuk peradabandan dan keberagamaan. Semangat egoisitas lahir kemudian lambat laun menjadi persoalan yang sulit dibendung dan pada akhirnya dari egoisitas yang timbul dari tiap personal bergeser pada ranah yang lebih luas serta menjadi pijakan untuk membela agamanya masing-masing. Berawal dari hal yang sederhana inilah paham radikalisme di negeri ini tumbuh subur. Pemahaman secara tekstual terhadap teks agama menyebabkan agama tidak mencapai pandangan dunia bahwa agama mempunyai visi kemanusiaan terhadap sesama tanpa memandang atribut agamanya. Namun agama yang berbeda justru dianggap musuh yang harus dilawan, berperang adalah jalan satu-satunya dengan berdalih jihad fi sabililah.

Dalam situasi demikian lahirlah slogan “hidup mulia atau mati syahid” yang sejak dahulu diucapkan oleh Ibnu Zubair, ialah salah seorang pejuang hebat memperjuangkan Islam. Kemudian slogan tersebut diadopsi oleh para pejuang yang ingin memperjuangkan kemurnian ajaran islam dari unsur kekafiran hingga pada kelompok-kelompok yang berkembang di tanah Indonesia.

Dalam buku yang ditulis dua intelektual ini disebutkan, jihad fi sabilillah adalah bentuk aktualisasi fakta historis jihad pada masa Rasullah di beberapa peperangan pada masanya. Namun dalam perkembangannya, jihad telah menglami reduksi makna sebatas perang bahkan dijadikan landasan gerakan terorisme. Bukan kedaimaian dan kesejahteraan yang didapat, melainkan keresahan dan ketakutan yang berkepanjangan dialami semua orang.

Meskipun demikian balasan yang akan dianugerahkan kepada para “mujahid”, dengan hidup megah di surge perlu direnungkan dan ditafsirkan kembali melalui pendekatan nilai-nilai kemanusiaan. Kemahakuasaan tuhan memasukkan hamba-Nya ke dalam surga dengan cara yang beragam sesuai kehendak-Nya dengan bersikap ramah antar sesama. Tuhan menjanjikan surga dengan jalan yang damai berprikemanusiaan tidak hanya terbatas antara “hidup mulia dan mati syahid” dengan jargon jihad fi sabilillah. Teks agama yang bersumber dari al-Qur’an maupun hadits Nabi jangan hanya dipahami secara teks dan harfiah yang kemudian hanya menimbulkan kurang menyentuh aspek sosial dan peradaban.

Buku berjudul Jejaring Radikalisme Islam di Indonesiaii ini mengupas dengan tuntas mengenai wacana radikalisme Islam yang tumbuh subur di tanah Indonesia yang merupakan hasil dari pengadopsian paham-paham yang sebelumnya telah berkembang di luar negeri, seperti di timur tengah. Di Indonesia, dengan Darul Islam (DI) yang kemudian direpresentasikan dengan Negara Islam Indonesia (NII) mendapati tanah subur di Indonesia, dengan proklamator Kartosuwiryo. Di mana sosok kartosuwiryo juga menjadikan jihad fi sabilillah sebagai landasan dalam gerakannya.

Dengan buku ini pula pembaca tidak akan mudah terpengaruh pada paham-paham radikalisme islam terutama yang berkembang di Indonesia dengan dalih jihad fi sabilillah akan mendapatkan kemuliaan atau akan mati syahid, tetapi pada akhirnya lebih pada tindakan terror. Dengan 159 halaman buku ini mampu mengulas jejaring radikalisme islam dari sejarah awal perkembangannya hingga pada perkembangannya di Indonesia yang diperkuat dengan fakta-fakta dan bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Setidaknya, dengan kehadiran buku ini mengajak pembaca untuk memaknai teks agama lebih objektif dan komprehensif, sehingga menghasilkan pemahaman yang komprehensif pula.

*Rafi’uddin, Peneliti Pusat Studi Qur’an dan Hadits (PSQH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakrta.

Disadur dari www.kompas.com

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s