Pembakaran Masjid Syiah di Brussel dan Menyemai Toleransi

 

Pembakaran salah satu Masjid Syiah di Brussel dan menewaskan satu orang yang juga menjadi Imam di masjid ini menambah cerita pahit tentang toleransi. Peristiwa yang terjadi pada 12 Maret 2012 ini merupakan gambaran betapa sempitnya pandangan sementara umat Islam terhadap entitas lain di sekitarnya. Bahkan, tindakan tersebut mengarah kepada suatu pandangan “klaim kebenaran” terhadap pandangan pribadi dan menafikan pandangan-pandangan beragam di sekelilingnya.

Tak lama sebelum kejadian ini, tepatnya pada Kamis, 29 Desember 2012, keberagaman masyarakat Indonesia juga dinodai dengan pembakaran sebuah Pondok Pesantren Syiah di Sampang, Madura. Terlepas dari latar belakang pembakaran, yang disinyalir disebabkan alasan dan dendam pribadi, peristiwa ini menunjukkan suatu fenomena lama yang dimunculkan kembali, yaitu penggunaan isu-isu yang berbau SARA untuk memprovokasi masyarakat. Tentu sebuah fenomena yang mengkhawatirkan tatkala bangsa Indonesia tengah dilanda permasalahan ekonomi seperti sekarang ini, karena dengan alasan “rupiah”, seseorang atau kelompok tertentu akan sangat mudah memperdaya kelompok mayoritas untuk melakukan tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok lain yang berbeda. Contoh yang sangat relevan tatkala konflik Ambon dan Poso mengiringi masa-masa reformasi di Indonesia. Dalam hal inilah, penting untuk membuka kembali pembicaraan tentang pluralitas dan toleransi antar kelompok yang memiliki perbedaan latar belakang.

Toleran adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Demikian Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi terhadap istilah “toleran”. Dari definisi singkat tersebut, dapat diketahui bahwa sikap toleran mengandaikan adanya kelapangan dada seseorang terhadap entitas berbeda yang ada di luarnya dan menerima perbedaan itu sebagai sebuah keniscayaan. Dari sini pula, adagium dari para Ulama terdahulu telah mematenkan keberagaman ini sebagai suatu rahmat bagi umat manusia (al-ikhtilaf rahmah).

Dari pengertian di atas juga didapati, bahwa toleransi meniscayakan adanya pengekangan terhadap ego pribadi yang hendak menang dan benar sendiri, dengan tidak menjustifikasi atau menilai pendapat/keyakinan orang lain. Sikap seperti ini tentu tidak mudah untuk dilakukan, bahkan sulit dicapai oleh sementara orang yang masih menyimpan perasaan superior di atas yang lain dan memandang entitas lain lebih rendah dari kedudukannya.

Adanya perasaan superior dan klaim kebenaran mengarahkan seseorang untuk fanatik dengan keyakinan/pandangannya, sehingga hal utama yang harus dilakukan untuk meminimalisasi fanatisme tersebut dengan selalu berupaya mencapai kesempurnaan dan meyakini bahwa proses pencarian kebenaran tidak akan pernah selesai sampai jasad berpisah dengan ruh. Proses selalu mencari inilah yang mengharuskan setiap insan untuk selalu berpacu dengan dirinya sendiri dan mengerahkan segala kekuatannya untuk mencapai titik kesempurnaan. Titik kesempurnaan ini adalah tatkala ilmu yang dimiliki manusia beriringan dengan kehendak yang dimiliki-Nya, sehingga hanya Tuhan saja yang mengetahui sejauh mana tingkat ketakwaan dan keimanan seseorang.

Dalam hal ini, seseorang yang selalu mencari kebenaran hakiki dan menelaah seluruh kekuasaan Tuhan yang ada di bumi akan semakin mendapatkan banyak masukan informasi. Pada saat yang sama, sebagaimana disitir oleh Nietzsche, semakin banyak informasi yang masuk ke dalam diri seseorang, maka semakin relatif pula pandangan dan keyakinannya. Hal inilah yang secara alami dapat mengurangi sikap fanatik membabi buta terhadap sesuatu, karena sikap apatis yang didahulukan sebelum mengkaji lebih dalam suatu permasalahan telah menghalangi seseorang untuk mengetahui permasalahan secara utuh. Alih-alih hendak mendalami dan mengetahui tentang hakikat sesuatu, ketakutan yang berlebihan telah memunculkan sikap apatis terhadap permasalahan. Akibatnya, pemahaman “secuil” dan “buta” yang – selalu dipegang – hanya bisa menyalahkan dan menjustifikasi pandangan orang lain.

Bila tingkatan toleransi seseorang atau suatu kelompok masih berada pada tahap ini, ancaman terhadap runtuhnya tatanan masyarakat toleran dan plural telah di depan mata. Apalagi, Negara sebagai pemangku kewajiban untuk menyebarkan toleransi melalui struktur-struktur kenegaraan yang dimiliki tidak menjembatani modal sosial masyarakat untuk lebih toleran. Dalam hal ini, penting untuk membangun jejaring toleran antar individu dan kelompok dengan organisasi-organisasi masyarakat, institusi sosial dan keagamaan, serta stakeholder masyarakat sipil sebagai pendulumnya. Tidak lupa pula lembaga pendidikan dan struktur Negara sebagai promotor penyemaian toleransi secara top-down agar rakitan yang telah disiapkan di wilayah akar rumput oleh masyarakat sendiri dapat terjalin berkelindan. Dengan begitu, transformasi individu, kelompok atau masyarakat dari tahapan intoleran diharapkan dapat tercapai menuju peradaban yang toleran; memahami perbedaan dan keanekaragaman, demi merayakan kemajemukan yang niscaya.

Oleh Muhammad Hafiz

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s