Toleransi Beragama Dalam Pandangan Islam

Al Arham Edisi 34 (A)

Rabu, 16 Februari 2011

Sesungguhnya orang-orang mu`min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”

Toleransi atau tasamuh dapat diartikan sebagai sebuah sikap berlapang dada, atau pemaaf.  Makna toleransi ini sejalan dengan idealitas Islam yang mengajarkan umatnya untuk menebarkan kasih sayang. Karena Islam merupakan agama rahmat (rahmatan lil ’alamin), maka dalam setiap aspek kehidupan umat Islam harus senantiasa memancarkan nilai-nilai kasih sayang dan penghargaan terhadap sesama.

Kehidupan yang penuh dengan toleransi ini telah di praktekkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw pada saat beliau memimpin Madinah. Berbagai pemeluk agama seperti Islam, Yahudi dan Kristen dapat hidup berdampingan secara damai. Bahkan kehidupan yang toleran tersebut didukung dengan suatu kesepakatan bersama yang tertuang dalam Piagam Madinah. Contoh dari isi Piagam Madinah adalah sebagai berikut:

Pada mereka (kaum Nasrani) itu tidak dibenarkan adanya dorongan atau pemaksaan atas sesuatu apapun dari itu semua. Atap (bangunan) mereka juga tidak boleh diubah begitu pula sistem kerahibannya, juga ruang semedi dari biara-biaranya, ataupun halaman-halamannya. Dan tidak satupun bangunan dalam lingkungan kanisah dan gereja mereka yang boleh dirusak, begitu pula tidak dibenarkan harta gereja itu yang masuk untuk membangun masjid atau rumah orang-orang muslim. Barangsiapa melakukan hal itu maka ia sungguh telah melanggar perjanjian Allah dan melawan Rasul-Nya…

Toleransi dalam Islam mempunyai akar yang kuat baik dalam normativitas maupun historisitasnya. Sekalipun dalam prakteknya, kehidupan beragama mengalami situasi pasang dan surut. Idealitas yang tertuang di dalam teks-teks Alqur`an dan Hadits seringkali mengalami penyimpangan. Itu artinya agama (ajaran agama) dan pengalaman keberagamaan harus dipahami sebagai dua hal yang terkait tetapi sekaligus berbeda.

Dampak Konflik Agama  bagi Perempuan
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, ras, etnis dan agama yang berbeda. Berdasar kondisi tersebut, Indonesia sesungguhnya mempunyai modal besar bagi kehidupan yang majemuk. Namun, berbagai perbedaan ini seringkali memicu terjadinya ketegangan dan konflik, seperti konflik yang bermuatan agama. Kasus kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah, pengerusakan gereja dan  penusukan tokoh agama merupakan contoh buruk atas terkoyaknya pluralitas dan toleransi beragama di Indonesia. Padahal memaknai pluralitas dan toleransi berarti memahami orang lain sekalipun tidak sepakat atau dalam bahasa Prof. Mukti Ali “agree in disagreement” (setuju dalam ketidaksetujuan).

Biasanya konflik antar umat beragama di picu oleh beberapa faktor. Pertama, menipisnya  percaya diri (self esteem) masyarakat dan menguatnya tribalisme baru. Masyarakat yang lebih percaya terhadap provokasi dan melupakan ajaran agama tentu akan mudah terbakar dan mudah terbawa dalam konflik. Kedua, kultur bisu atau (culture of silence). Masyarakat yang acuh tak acuh atau apatis dengan konflik yang terjadi akan meneguhkan atau melegalkan bahwa konflik adalah sebuah kewajaran. Ketiga, budaya kekerasan (culture of violence). Budaya main hakim sendiri merupakan pemicu bahwa tidakan kekerasan adalah boleh dan sah. Padahal Islam mengakomodir Adh-dharuriyat al-Khamsah atau lima hak dasar manusia yaitu hifdh al-din (kebebasan beragama), hifdh an-nafs (perlindungan jiwa), hifdh an-nasl (perlindungan terhadap keturunan atau generasi), hifdh al-aql (kebebasan berpikir), dan hifdh al-mal (perlindungan atau jaminan kepemilikan harta kekayaan).

Konflik yang bermuatan agama menimbulkan kerugian besar bagi umat beragama itu sendiri, terutama bagi para perempuan dan anak-anak. Selama ini setiap terjadi konflik beragama, media banyak mengekspos peristiwa kekerasannya saja tetapi jarang memberitakan dampak material dan psikologis yang ditimbulkannya. Sebut saja kasus pembakaran masjid dan rumah-rumah orang-orang Ahmadiyah di Kuningan dan Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Hampir tidak terekspos bagaimana ketakutan dan trauma para perempuan dan anak-anak yang mengalami peristiwa tersebut. Kasus lain adalah penusukan pendeta geraja HKBP di Bekasi beberapa waktu yang lalu dimana diantara korbannya adalah perempuan.

Selama ini kasus kekerasan atas nama agama diasumsikan sebagai kasus yang male oriented (berorientasi laki-laki). Akibat buruk yang dialami oleh para korban terutama perempuan dan anak-anak jarang diperhatikan. Apabila ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah umat beragama telah mengabaikan ajaran agamanya sendiri. Perhargaan terhadap harkat martabat manusia yang termasuk di dalamnya adalah para perempuan dan anak-anak menjadi diabaikan.

Ikhtiar Membangun Hidup Toleran
Ikhtiar untuk membangun kehidupan beragama yang harmonis harus senantiasa dilakukan. Supaya kehidupan umat beragama tetap harmonis, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, breaking the silence; memecahkan kebisuan masyarakat atas segala konflik ataupun tindak kekerasan yang ada di sekelilingnya. Upaya ini akan membangkitkan kesadaran orang bahwa membiarkan tindakan kekerasan ataupun kejahatan sama halnya dengan melakukan kejahatan itu sendiri. Kedua, meneguhkan budaya empati. Kepedulian satu sama lain baik berbeda suku, ras, dan agama harus senantiasa digelorakan dan didengungkan. Ketiga, membangkitkan local wisdom atau kearifan lokal. Setiap agama, suku dan ras mempunyai ciri khas masing-masing dalam mengungkapkan nilai-nilai toleransi dan pluralitas. Bukan keseragaman yang dibutuhkan, tetapi kearifan lokal yang mengarah pada satu tujuan bersama yaitu kehidupan yang harmonis dalam beragama. Wallahu a`lam.[]

 

Tulisan disadur dari: http://www.rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=627:toleransi-beragama-dalam-pandangan-islam-al-arham-edisi-34-a&catid=19:al-arham&Itemid=328

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s