Radikalisasi Agama di Jabodetabek dan Jawa Barat:Wajah Para ‘Pembela’ Islam

Setara Institute, 2011 – Di Indonesia, negara selalu hadir dan turut campur dalam urusan agama, Sebaliknya, negara justru absen dan tidak berdaya menjangkau serta menghakimi para pelaku intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan.

Kebebasan beragama/berkeyakinan merupakan hak fundamental negara yang dijamin oleh Konstitusi Republik Indonesia dan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-Undang No. 12 Tahun 2005. Sebagai hak asasi manusia dan hak konstitusional warga negara, kebebasan beragama/berkeyakinan menuntut negara untuk menjamin kebebasan itu dan menghukum setiap orang yang mengganggu jaminan kebebasan tersebut.

Derajat keberhasilan negara dalam menjamin kebebasan beragamal/berkeyakinan diukur dengan dua cara. Pertama, negara harus menahan diri atau tidak mengambil tindakan yang dapat mengganggu implementasi hak-hak seseorang atau sekelompok orang (abstain), sehingga prinsip kewajiban ini bersifat negatif (negative obligation). Kedua, negara melindungi hak-hak asasi manusia dari ancaman atau tindakan pihak ketiga (non-state) yang juga dikenal sebagai kewajiban positif (positive obligation). Kewajiban melindungi memerlukan peranan negara, khususnya bagi kelompok yang terdiskriminasi, yakni kelompok minoritas agama/keyakinan; namun secara umum adalam memastikan bahwa kebebasan kelompok ini tidak dilanggar oleh pihak ketiga.

Namun demikian, dalam praktik di Indonesia, negara justru hadir dan turut campur dalam urusan agama, Sebaliknya, negara justru absen dan tidak berdaya menjangkau serta menghakimi para pelaku intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan. Bahkan melalui beberapa produk hukum, negara justru menyeponsori intoleransi dan diskriminasi. Negara juga terus-menerus membiarkan berbagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama/berkeyakinan kelompok minoritas dan terpinggirkan.

Pembiaran yang paling nampak adalah sikap negara yang terus-menerus menebalkan impunitas terhadap organisasi-organisasi Islam radikal, walaupun nyata-nyata dalam banyak kasus mereka adalah aktor kekerasan. Tidak hanya membiarkan, sejumlah elemen negara dalam berbagai bentuk dan cara, bahkan terus-menerus mengakomodasi secara politik kelompok-kelompok ini.

Setara Institut melakukan riset tentang radikalisme agama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan Jawa Barat dengan tujuan menyajikan wajah-wajah organisasi Islam radikal yang menurut data dari berbagai laporan tentang kondisi kebebasan beragama/berkeyakinan maupun data riset ini sering mengganggu kebebasan beragama/berkeyakinan warga masyarakat lain.

Dengan mengenali organisasi-organisasi Islam radikal, diharapkan sejumlah langkah dapat dilakukan oleh negara untuk menghapus intoleransi dan diskriminasi agama/keyakinan. Menegakkan hukum bagi para pelaku kekerasan, intoleransi dan diskriminasi serta melakukan deradikalisasi pandangan, perilaku dan orientasi keagamaan melalui kanal politik dan ekonomi adalah rekomendasi utama penelitian ini.

Laporan Setara Institute ini dapat memberikan gambaran tentang organisasi-organisasi tersebut. Sila diunduh di sini

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s