GKI Yasmin: Negeri yang Terkoyak

Pada siang Minggu (11 Maret 2012), sekitar 60 orang jemaat GKI Yasmin, Bogor kembali menggelar peribadahan di depan Istana Negara, Jakarta. Upaya ini sengaja dilakukan oleh Jemaat GKI yang telah memegang kekuatan hukum tetap dari Mahkamah Agung RI untuk menuntut komitmen Presiden menyelesaikan pelanggaran hak beribadah dan berkeyakinan bagi GKI Yasmin.

Sejak Walikota Bogor, tanpa adanya alasan yang legal dan konstitusional, mencabut Izin IMB GKI Yasmin dan mensegel secara paksa Gereja, Jemaat GKI Yasmin harus beribadah di trotoar sejak 2009. Padahal, IMB GKI Yasmin telah dikeluarkan sendiri oleh Walikota Bogor dan Walikota telah memberikan sambutannya dalam peletakan batu pertama pembangunan Gereja.

Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar Negara Indonesia menjamin hak setiap warga Negara untuk beribadah dan memeluk agama. Hal ini juga diturunkan melalui peraturan perundang-undangan lebih rendah. Sejak awal berdirinya, melalui para founding fathers-nya, Indonesia telah menetapkan bahwa Negara yang beranekaragam ini dibentuk untuk menaungi seluruh elemen masyarakat. Dengan kata lain, Indonesia dibentuk bukan untuk satu golongan tertentu, sehingga adalah salah besar bila berpandangan bahwa Indonesia adalah khusus untuk kelompok tertentu.

Di sisi yang lain, Pemerintah Pusat seolah tutup mata dengan permasalahan ini. Alih-alih untuk memberikan solusi dan mendorong Walikota Bogor untuk menjalankan Putusan MA dan sejumlah lembaga Negara yang terkait, Pemerintah Pusat justru mentoleransi pelanggaran hak-hak dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian pula dengan DPR RI, meskipun diangkat dan dipilih oleh rakyat, ternyata tidak mampu menjawab permasalahan real warga Negara. Hanya beberapa segelintir Anggota DPR yang mendukung GKI Yasmin, padahal jelas-jelas posisi GKI Yasmin adalah kuat secara hukum. Entah sampai kapan permasalahan GKI Yasmin ini tetap menjadi komoditas politik Walikota Bogor. Entah sampai kapan pula manipulasi kelompok Islam intoleran yang bergerak demi kepentingan ekonomi terus menggerogoti kedaulatan Negara kita. Hanya Tuhan yang tahu sampai di mana cerita ini, tapi sebagai manusia yang mencintai kedamaian dan mendukung Indonesia yang plural (beragam), harus tetap menyuarakan pembelaan bagi kelompok yang tertindas.

Muhammad Saw. sebagai Nabi yang diakui oleh umat Islam telah mengajarkan sikap toleransi bagi seluruh kelompok. Gereja, merupakan salah satu tempat yang tidak boleh dirusak atau diserang tatkala terjadi peperangan. Demikian pula dengan pembebasan Palestina oleh Umar bin Khattab, ia justru membiarkan gereja berdiri dan digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beribadah. Lalu mengapa kita yang sangat jauh kadar keimanan dan takwanya dibandingkan dari Rasulullah atau Umar ibn Khattab “sok” lebih mengetahui tentang eksistensi umat lain, bahkan menghakimi mereka secara tidak fair dan legal.

MH

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s