Memaknai Keterlibatan Indonesia di OKI untuk Kepentingan Nasional

Muhammad Hafiz

Setahun terakhir ini, diplomasi luar negeri Indonesia mulai meletakkan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai salah satu perhatiannya. Selain menjadi tuan rumah sejumlah pertemuan OKI pada 2012, keketuaan Marzuki Alie pada Persatuan Parlemen OKI, serta terpilihnya perwakilan Indonesia untuk Anggota Komisi HAM OKI pada pertemuan Menteri Luar Negeri di Kazakhstan 2011 lalu, menjadi pertanda kecenderungan ini. Hanya saja, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah keterlibatan ini akan dimaknai secara lebih serius untuk kepentingan Nasional? Menjawab pertanyaan ini, ada dua hal yang penting menjadi perhatian terkait keterlibatan tersebut, yaitu upaya untuk menginternasionalisasikan Islam Indonesia dan memaknai OKI dalam konteks nasional.

Internasionalisasi Islam Indonesia

Untuk yang pertama, telah diketahui bersama bahwa akhir-akhir ini muncul suatu harapan baru agar Indonesia dapat menjadi tauladan bagi Negara-negara Muslim, terutama dalam konteks demokrasi dan HAM. Hal ini semakin menguat tatkala gelombang demokratisasi marak terjadi di wilayah Timur Tengah dengan Arab Springnya. Sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan paling demokratis tentu tawaran ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk lebih mewarnai perkembangan geopolitik di komunitas Muslim global. Jika dahulu Indonesia menerima transfer perabadan Barat dan telah mampu mengkontekstualisasikannya dengan kebudayaan lokal yang sarat dengan tradisi keagamaan dan ketimuran, maka sekarang saatnya Indonesia mentransfer kembali nilai-nilai tersebut kepada Negara-negara yang tengah membutuhkannya.

Dengan sejumlah alasan, posisi ini penting untuk diraih oleh Indonesia. Pertama, efek dari tesis Samuel Hungtinton tentang clash of civilitation telah memberikan jarak psikologis bagi komunitas Islam untuk menerima apa yang dihasilkan oleh masyarakat Barat, meskipun pada sisi lain mereka mengakui pentingnya produk tersebut dalam pembangunan peradaban dan kebudayaan mereka. Dalam hal ini, nilai-nilai modern yang diambil dari godokan Islam Indonesia akan mengurangi resistensi tersebut, selain karena ditransfer melalui komunitas muslim pula.

Kedua, dengan menjadi rujukan Negara-negara Muslim, Indonesia telah pula menjadi kiblat ajaran Islam modern yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini semakin relevan tatkala masyarakat dan Pemerintah di Negara-negara Barat tengah dilanda ketakutan yang sangat terhadap Islam (Islamfobia), seperti yang terjadi di Belanda dan sejumlah wilayah Eropa akhir-akhir ini. Dengan menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan damai, Islam Indonesia dapat mentransfer peradaban ini ke komunitas internasional sekaligus, baik Timur atau pun Barat.

 

Memaknai OKI dalam Konteks Nasional

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya diperhatikan oleh Pemerintah adalah mengoptimalkan OKI untuk kepentingan Nasional agar kebijakan luar negeri Indonesia lebih substantif dan bermanfaat secara Nasional.

Pemanfaatan OKI tersebut dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, membawa permasalahan Nasional ke level yang lebih tinggi di tingkat multilateral, seperti perlindungan TKI yang sebagian besar ada di Negara-negara Muslim. Pemerintah Indonesia – atau juga DPR RI yang saat ini tengah mengadakan pertemuan Parlemen se-OKI di Palembang – harus menjadikan OKI sebagai kerangka kerja perlindungan TKI, baik melalui kebijakan kelembagaan dengan membangun sistem dan mekanisme perlindungan ataupun melalui hubungan diplomatik informal. Keterlibatan Indonesia harus memberikan hasil konkret bagi kepentingan Nasional dan warga negara secara luas, tidak hanya pada urusan keagamaan, seperti penambahan kuota haji.

Pendekatan kedua yang dapat digunakan adalah memanfaatkan OKI dalam mewujudkan masyarakat yang toleran dan demokratis di Indonesia. Seiring dengan reformasi yang dilakukan oleh OKI secara internal, Organisasi ini telah cukup banyak menyediakan modalitas bagi pembangunan masyarakat Muslim modern. Di antara yang cukup penting adalah Resolusi Dewan HAM tahun 2011 tentang “Penghapusan Intoleransi, stigmatisasi, diskriminasi dan tindakan kekerasan berdasarkan agama/keyakinan” yang diusung oleh Negara-negara OKI. Patut diapresiasi bahwa Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, telah berkontribusi besar dalam menyusun resolusi tersebut (Diplomasi Kemlu RI 2011), namun penting pula kiranya Pemerintah dan umat Islam Indonesia menggunakan resolusi tersebut sebagai modalitas pembangunan relasi antar agama dan keyakinan di tengah maraknya kasus-kasus kekerasan dan diskriminasi kepada kelompok minoritas agama/keyakinan.

Selama ini, OKI seringkali dijadikan rujukan untuk mendeligitimasi kelompok minoritas tertentu di Indonesia, sementara di sisi lain capaian positif dan modalitas yang telah dihasilkan oleh OKI tidak pernah disosialisasikan atau dijadikan rujukan oleh umat Islam dan pemerintah.  Padahal, sebagai Organisasi tingkat dunia yang didukung oleh seluruh Negara-negara Muslim, OKI cukup memiliki pengaruh yang kuat bagi masyarakat. Dalam hal demikianlah pemerintah harus menjadi jembatan informasi perkembangan mutakhir nilai-nilai Islam yang telah dihasilkan oleh OKI kepada masyarakat Indonesia untuk menghadirkan Islam yang sejuk, damai dan toleran. Hal ini setidaknya dapat mewarnai ruang publik masyarakat muslim, yang akhir-akhir ini justru diisi oleh wacana-wacana Islam yang mengedepankan pendekatan kekerasan dan sikap intoleran.

Semakin luas dan masifnya pergaulan antar Negara dan komunitas global mengharuskan Indonesia juga harus terlibat di dalamnya. Sudah saatnya Islam Indonesia dihadirkan untuk mengisi wacana Islam global yang lebih mengutamakan kebhinekaan dan toleransi, selain juga keterlibatan ini tentu harus mempertimbangkan kepentingan Nasional dan manfaatnya bagi pembangunan bangsa Indonesia yang lebih baik.

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s