Catatan Harian Ahmad Wahib

8 Maret 1969

Saya pikir Islam itu statis, sedang pemahamannya sosiologis dinamis. Maka
Das sollen: filsafat Islam itu universal dan abadi; das sein
: berubah-ubah, yaitu menunjukkan bahwa konsep
filsafat Islam tersebut belum sempurna. Tapi ini tidak apa, kita berusaha
sedekat mungkin pada yang sempurna. Karena itu, tidak apa ada filsafat
menurut Al-Maududi, menurut yang lain-lain. Kesamaan pendapat dalam
berbagai ruang dan waktu sukar didapat, walaupun seharusnya begitu. Itu
tidak apa. Biar. Tapi kalau kita tidak setuju itu, mana filsafat Islam menurut
kita sendiri? Kita sendiri, kalangan pemikir muda Islam? Saya pikir itu sama
saja masalahnya dengan agama Allah. Das sollen: hanya satu agama. Das
sein: macam-macam agama. Tiap-tiap agama harus merasa bahwa dialah
agama Allah. Dialah yang universal dan abadi.

Kita tengadahkan muka ke atas
Ke alam bebas dan lepas
Di mana perkawinan pendapat bukan pengkhianatan
Di mana pertentangan pendapat bukan pengacauan
Di mana pembaharuan sikap bukan kejelekan
Kita cari ruang bebas
Di mana warna yang beraneka adalah rahmat
Di mana bentuk yang beragam adalah hidayah
Di mana konflik menjadi pertanda kemajuan
Ke sanalah kita menengadah
Di mana pendapat-pendapat bisa saling bertentangan
Di mana pendapatmu, pendapatnya dan pendapatku
Dimungkinkan bercanda dan bercumbuan
Dalam saling penghormatan
Kerja-kerja kita tak pernah selesai
Yang disusun baru di tingkat awal
Semoga diteruskan.

 

 

Bila menilai sesuatu kita sudah bertolak dari suatu asumsi bahwa
ajaran Islam itu baik dan faham-faham lain di bawahnya, lebih
rendah. Ajaran Islam kita tempatkan pada tempat yang paling
baik. Dan apa yang tidak cocok dengannya kita taruh dalam nilai
di bawahnya. Karena Islam itu paling baik dan kita ingin menempatkan
diri pada yang paling baik, maka kita selalu mengidentikkan
pendapat yang kita anggap benar sebagai pendapat
Islam (Ahmad Wahib, Catatan Harian, 1981: 21-22).

 

Kita bukan hanya perlu mengadakan peremajaan interpretasi tapi
yang lebih penting lagi ialah gerakan transformasi. Peremajaan
interpretasi hanya berarti suatu dinamika dalam suatu ruangan
terkungkung dan terbatas. Jadi hanya sekedar rethinking sahih dan
dhoifnya hadis, mempertahankan kembali langkah-langkah para
sahabat dan lain-lain lagi. Kita tetap dalam kepungan atau
lingkaran dominasi huruf. Sebaliknya dengan gerakan transformasi
kita mengadakan perubahan tidak hanya dalam interpretasi katakata
Arab seperti sahih dhaif dan sebagainya, tapi juga perubahan
dalam menentukan sumber hukum yakni bukan cuma Qur’an dan
Sunnah, tapi tak kalah pentingnya: kondisi sosial! Pada tiga sumber
itu akal bekerja, mengumpulkan ide-ide yang dikandungnya,
kemudian membawa ide-ide itu berinteraksi dengan kondisi sosial
masa kini untuk melahirkan fiqh baru!

(Ahmad Wahib, Catatan Harian 1981: 57-58)

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s