Catatan Harian Ahmad Wahib

22 Agustus 1969

Terus terang, aku kepingin sekali bertemu dengan Nabi Muhammad dan ingin
mengajaknya untuk hidup di abad 20 ini dan memberikan jawabanjawabannya.
Aku sudah kurang percaya pada orang-orang yang disebut
“pewaris-pewarisnya”.

 

29 Maret 1970

Lihatlah, ulama-ulama Islam ingin menerapkan hukum tertentu kepada
manusia. Tapi sayang, bahwa di sini yang mereka perkembangkan hanyalah
bunyi hukum itu dan sangat kurang sekali usaha untuk mengerti dan
membahas masalah manusianya sebagai objek hukum itu. Dengan cara-cara
ini, adakah kemungkinan untuk menjadikan hukum itu sendiri menjadi suatu
kesadaran batin dalam hati manusia? Yang terjadi malah sebaliknya, bahwa
makin lama orang-orang makin jauh dari hukum-hukum yang mereka
rumuskan. Sampai di manakah ulama kita – walaupun tidak ahli – cukup
memiliki apresiasi terhadap antropologi, sosiologi, kebudayaan, ilmu, politik
dan lain-lainnya?
Bagi saya, ulama-ulama seperti Hasbi, Muchtar Jahya, Munawar
Cholil dan lain-lain, tidak berhak menetapkan hukum dalam masalah akhlak
dan khilafah. Bagaimana mereka berhasil tepat, bilamana masalah manusia,
masyarakat dan lain-lain tidak dikuasainya? Tidak ada kerja kreatif yang
mereka lakukan. Mereka baru dalam taraf interpretatif.
Sejauh pengamatan saya, bahasa ulama kita dalam dakwahnya juga
sangat kurang. Mereka sangat miskin dalam bahasa, sehingga sama sekali
tidak mampu mengungkapkan makna firman-firman Tuhan. Bahasa mereka
terasa sangat gersang….

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s