Syafiq Syeirozi: Menegaskan Ulang Makna Jihad

Proyek antiradikalisme oleh sebagian kelompok kerap dituduh sebagai upaya untuk menngemboskan semangat jihad kaum muslimin. Padahal jihad adalah salah satu kewajiban individual dalam ajaran Islam.

Tak ayal tuduhan-tuduhan negatif seperti antek Amerika (sebagai negara yang paling gencar dalam menjalankan program antiterorisme), penghancur syariat Islam, dan semacamnya biasa disematkan kepada pihak-pihak yang aktif menjalankan program antiradikalisme.

Beberapa hari lalu, opini yang termuat di salah satu media online Islam bahkan secara eksplisit menuduh individu dan lembaga yang menjalankan program antiradikalisme sebagai mitra Amerika Serikat yang berniat memecah belah umat Islam, lantaran menerima sumbangan dana untuk program tersebut dengan memanfaatkan isu-isu ‘‘terorisme’’.

Sedangkan individu yang diserang dalam opini tersebut adalah sosok Nasir Abas, mantan ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI), organisasi yang kerap dikaitkan dengan terorisme, lantaran sekarang aktif berkampanye dalam program antiterorisme, salah satunya melalui komik “Kutemukan Makna Jihad” terbitan Lazuardi Birru.    

Nasir dianggap sebagai sosok yang menyeberang, dari awalnya mendukung bahkan aktif dalam kegiatan “jihad” kini berbalik memusuhi “jihad” dan para pendukungnya, serta menganggap bahwa jihad dan i’dad adalah salah satu ancaman bagi umat Islam dan keutuhan NKRI.

Tanpa bermaksud membela Nasir Abas, tampaknya tuduhan tersebut sangat tidak tepat. Saya beberapa kali mewawancarai dia. Dalam pengakuannya, sejak masih aktif di JI pun ia sudah tidak setuju dengan aksi-aksi terom bom di Indonesia yang dilakukan oleh sebagian kecil rekannya.

Bahkan ketika Osama bin Laden merilis fatwa agar kaum muslim menyerang kepentingan Amerika Serikat di mana pun berada, Nasir menolak fatwa tersebut dan enggan menyebarkan kepada para anggotanya.

Bagi dia, aksi “jihad” haruslah berada di medan perang seperti di Afghanistan, Irak, dan negeri-negeri muslim lain yang terlibat peperangan dengan negara lain. Sementara di negeri damai seperti Indonesia, aktualisasi jihad bisa dilakukan dalam wujud lain.

Saya memberikan tanda kutip dalam kata jihad untuk membedakan makna antara jihad yang berarti qital (perang) dan jihad dengan makna aslinya sebagai upaya sungguh-sungguh untuk melakukan perbuatan demi mencapai tujuan tertentu.        

Tampaknya penulis opini tersebut sangat strict memaknai jihad sekadar sebagai upaya memerangi dan menahan agresi musuh dengan segala bentuknya. Sehingga upaya sejumlah kelompok dan individu yang berupaya menjelaskan kepada masyarakat bahwa makna dan aktualisasi jihad itu sangat luas malah dianggap sebagai penggembosan terhadap “jihad” dan syariat Islam.

Padahal “diserang” dari program antiradikalisme adalah penyalahgunaan makna jihad sebagai aksi terorisme di bumi Indonesia yang damai (bukan darul Harbi).

Lembaga seperti Nahdlatul Ulama (NU) yang kini aktif melakukan program antiradikalisme-antiterorisme juga pernah mengeluarkan resolusi “jihad” untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat terutama warga Jawa Timur dalam melawan tentara sekutu pada 1945 sehingga pecahlah pertempuran 10 November 1945 di kota Surabaya. Tetapi itu dalam konteks untuk mengusir penjajah dari Indonesia. Dalam hal ini NU juga setuju dengan pemaknaan jihad sebagai peperangan, tetapi dengan melihat konteksnya yakni “jihad“ melawan tentara asing yang melakukan penjajahan fisik di negeri muslim seperti Indonesia.

Kembali ke sosok Nasir Abas, dalam beberapa kali wawancara yang saya lakukan, ia sangat setuju bahwa ideologi jihad suatu kebenaran mutlak wahyu Iilahi yang harus dijaga demi kemuliaan Islam. Karena itu jangan dinodai dengan aktualisasi “jihad” yang salah kaprah yang malah mengakibatkan jatuhnya korban di pihak masyarakat sipil yang juga muslim seperti aksi-aksi bom di Indonesia.

Inilah yang harus ditegaskan, bahwa program antiradikalisme jelas bukan program antijihadisme.

Kedua mengenai tuduhan bahwa Nasir Abas tidak konsisten lantaran meyakini bahwa apa yang dilakukannya saat ini ialah demi kemaslahatan umat Islam dan lebih mendekati sunnah Nabi Muhammad SAW, tetapi ia sendiri menghilangkan salah satu sunnah Rasulullah yaitu memotong jenggot yang dulu ia pelihara.

Fakta ini menurut saya terlalu diada-adakan karena mengukur tingkat kesalehan dan keislaman seseorang dari jenggot tentu sangat naïf. Lebih dari itu, apakah memelihara jenggot itu bagian dari Sunnah Rasul atau tidak, di kalangan ulama masih muncul perbedaan. Kalangan jumhur saja menganggap itu sebagai sunnah (sunnah dalam arti bila tidak dikerjakan tak mendapat dosa). Barangkali hanya kaum Hanabilah yang hampir mewajibkan memperpanjang jenggot.

Bagi saya sendiri, posisi Muhammad SAW sebagai rasul dan Muhammad sebagai orang Arab harus dilihat secara proporsional. Cara berpakaian Muhammad SAW dengan jubah, cara makan beliau, serta kebiasaan memelihara jenggot, dalam hemat saya, lebih terkait dengan kebudayaan Arab saat itu. Artinya bukan bagian dari perintah agama yang berlangsung universal tanpa kenal situasi dan kondisi.

Kembali ke soal tuduhan penggembosan makna jihad yang dialamatkan kepada Nasir Abas, dalam pandangan saya, sebenarnya pria berkewarganegaraan Malaysia itu tidak mengalami titik balik kesadaran memaknai jihad melainkan memperoleh pemaknaan yang lebih luas atas jihad. Bahwa jihad ternyata tidak melulu berperang tetapi juga dengan aksi-aksi damai yang memberikan kemaslahatan bagi banyak manusia. Dan bila dia mencukur jenggot, apakah tidak mungkin seseorang yang sebelumnya “mewajibkan” berjenggot telah memandang dan menganut mazhab yang lebih baik menurut agamanya. Toh beragama itu tek perlu diberat-beratkan atau dipersulit, sebagaimana hadis berbunyi “Yassiru wala tu’assiru..”. Lagi pula ihya’ lihyah itu bukan persoalan ushuliyah.

Sumber Lazuardi Birru